Orang Tua Tunggal, Tak Lantas Jadikan Heni Gagal

46

ibu tangguh

Konon, makhluk yang paling tangguh di bumi ini adalah ibu. Di balik sosoknya yang terlihat lemah, ada kekuatan yang luar biasa. Bahkan ada sebuah ungkapan, seorang ibu bisa merawat dan membesarkan 10 orang anak. Namun 10 orang anak belum tentu bisa merawat seorang ibu.

Gambaran ibu tangguh juga tergambar dari kisah perjuangan seorang ibu yang tinggal di salah satu sudut kota Tangerang, Banten. Namanya Heni Kartini (37), salah seorang penerima manfaat program Sosial Trust Fund (STF) Dompet Dhuafa.

Sudah 13 tahun ia menjadi seorang orang tua tunggal (single parent). Ia bercerai karena suaminya pindah agama. Suaminya adalah seorang muallaf tatkala menikahinya. Namun setelah beberapa waktu pernikahan berjalan, suaminya kembali ke agama lamanya. Heni mencoba bertahan, berharap suaminya kembali. Tapi usahanya sia-sia. Mereka pisah saat buah hatinya menginjak usia 2 tahun.

Sejak saat itu ia tinggal bersama anaknya. Ia mempertahankan mati-matian putrinya agar tidak dibawa suaminya. Heni tidak ingin anaknya menjadi seperti suaminya. Usaha kerasnya berhasil. Hak asuh putrinya jatuh kepada dirinya.

Pendidikan Heni yang hanya sampai SMA membuat dirinya kalang kabut dalam bertahan hidup. Sebab tidak banyak pekerjaan dengan gaji mencukupi jika hanya bermodal ijasah SMA. Ia mencoba pekerjaan apa saja yang penting halal dan bisa mencukupi kebutuhannya. Heni pernah bekerja di kontraktor bangunan, restoran, dan di hotel sebagai penerima tamu.

Tahun 2007 Heni di PHK. Ia kembali pontang panting mencari nafkah. Ia pernah ngasong di pabrik, sekolah, kereta dan berbagai tempat lainnya. Bahkan saat ngasong di tanah abang, ia pernah di dikejar-kejar satpol PP. Setelah kejadian itu ia berhenti ngasong.

Heni mengaku tidak mudah menjadi seorang single parent. Apalagi bagi dirinya yang penghasilannya minim. Ia pernah diusir dari kontrakan karena telat membayar uang sewa. Sering juga menahan lapar karena tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Ia hanya bisa bersabar menjalani itu semua.

Seiring berjalannya waktu, Heni mulai kenal dengan Dompet Dhuafa di tahun 2011 dari seorang teman yang mengelola anak jalanan. Dari situlah akhirnya ia bisa mengikuti kursus menjahit yang diselenggarakan Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa. Sambil kursus, ia memperoleh penghasilan dengan menjual krupuk dan bed cover milik temannya.

Ilmu yang ia dapatkan dari kursus itu ia terapkan dengan mengerjakan pesanan mukena dari majelis taklim. Ia juga membuat pesanan bed cover yang dibuat dari kain perca. Ketekunannya itu akhir berbuah setelah ia mendapat pinjaman modal dari program Sosial Trust Fund (STF) Dompet Dhuafa. Semenjak itu, kehidupannya semakin membaik.

Kini, pinjaman itu sudah lunas. Ia termasuk penerima manfaat program yang pengembaliannya lancar. Hal itu mengindikasikan jika usahanya berhasil dan berjalan lancar. Bahkan hasil kreasinya menyabet juara dua festival Tangerang Bersih dengan membuat pakaian dari bahan-bahan bekas.

Saat ini, usaha utama Heni adalah menjahit dan jual beli. Penghasilan per bulannya mencapai 3-4 juta. Selain karena mendapat bantuan program dari Dompet Dhuafa, ia mengaku jika kehidupannya menjadi membaik setelah dirinya lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ketika ditanya keinginannya ke depan, ia menjawab, “Saya ingin umroh, makanya saya mulai menabung,” tandasnya.  (satria/gie)

Sumber: dompetdhuafa.org

22