Panduan Itikaf: Bacaan dan Tata Cara Lengkap

218

Panduan Itikaf

Panduan itikaf secara lengkap perlu kita pahami agar dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang mampu membatalkan ibadah itikaf. Ibadah ini sangat popular dikerjakan di akhir Ramadhan. Seperti yang kita tahu bahwa itikaf d masjid merupakan ibadah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad, apalagi dalam rangka menyambut malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dan mulia dari malam seribu bulan.

Dalam artkel ini, akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan itikaf. Ringkasnya bias disebut sebagai panduan itikaf. Pembahasan mulai dari asal-usul, hukum dan dalil yang mensyariatkannya, masjid bagaimana yang bisa digunakan, bagaimana hukumnya seorang wanita beritikaf, pembagian itikaf, hal yang membatalkan, hal yang membolehkan, hingga tata cara dan keutamaan pelaksanaannya.

Baca Juga: Inilah Bacaan Doa-Doa Setelah Sholat yang Patut Dibaca

Asal-usul Itikaf

Sebelum membaca panduan itikaf, perlulah dipahami bagaimana definisi dan sejarah asal-usulnya.

Secara bahasa, itikaf memiliki arti ‘al-lubtsu’, berdiam diri. Al-Bujairimi dalam kitab Hasiyyah ala syarhil minhajnya mengatakan bahwa itikaf merupakan syariat dari umat-umat terdahulu. Itikaf termasuk syariat dari Nabi Ibrahim sebagaimana tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 125;

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang rukuk dan yang sujud.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa anjuran itikaf sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim yang selanjutnya tetap ada hingga umat Nabi Muhammad SAW. Adapun definisi itikaf secara syariat yaitu berdiam diri dan menetap di masjid dengan tata cara khusus yang disertai dengan niat. Ingat, jika kita berdiam diri di masjid tanpa menyertakan niat, kegiatan itu tidak bias disebut sebagai ibadah itikaf.

Hukum Itikaf  

Pada dasarnya hukum itikaf adalah sunnah, yang bisa dikerjakan kapanpun, termasuk waktu-waktu yang diharamkan shalat.  Namun ibadah ini bisa menjadi wajib jika dinadzarkan dan menjadi haram jika dilakukan oleh istri tanpa mendapatkan izin dari suaminya. Sedangkan jika dikerjakan oleh perempuan yang mampu mengundang fitnah akan menjadi makruh. Ibadah ini jauh lebih afdhal dikerjakan di akhir bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan pada hadis Nabi;

عن أبي بن كعب وعائشة رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشرالأواخر من رمضان حتى توفاه الله (رواه الشيخان)

Artinya: ‘Dari Ubay bin Ka’ab dan Aisyah, Rasulullah SAW beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah menjemputnya (wafat). 

Selain itu, juga mengatakan bahwa orang yang beritikaf di sepuluh malam terakhir bagaikan beritikaf bersama beliau.

مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

Macam-macam Itikaf

Salah satu panduan sebelum itikaf adalah mengetahui pembagiannya terlebih dahulu. Ada tiga macam pembagian itikaf.

  1. Itikaf mutlak

Itikaf ini mutlak tanpa adanya ikatan waktu, untuk batasan minimal itikaf adalah sepanjang tuma’ninah dalam shalat. Sedangkan panjang durasinya tidak ditentukan. Asalkan orang yang itikaf melakukan hal-hal yang membatalakn itikaf, selesai sudah itikafnya. Adapun  niatnya sebagai berikut,

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat itikaf di masjid ini karena Allah.”

  1. Itikaf terikat waktu tanpa terus-menerus

Itikaf ini terikat waktu misal sehari semalam atau satu bulan. Adapun niatnya sebagai berikut,

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَوْمًا/لَيْلًا كَامِلًا/شَهْرًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat itikaf di masjid ini selama satu hari/satu malam penuh/ satu bulan karena Allah.”  

  1. Itikaf terikat waktu satu bulan dan terus-menerus

Itikaf ini terikat waktu sesuai niat awal itikaf dan dikerjakan terus menerus. Adapun niatnya sebagai berikut,

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا

Artinya: “Aku berniat itikaf di masjid ini selama satu bulan berturut-turut karena Allah.”

Hal-hal yang Membatalkan Itikaf

Setelah berniat mengikuti panduan itikaf di atas, jangan pernah melakukan hal-hal yang dapat membatalkan ibadah itikaf. Dalam kitab Nihayah al –Zain fi Irsyad al Mubtadiiin karangan Syekh Muhammad ibn Umar Nawawi al-Bantani pada bab al-itikaf disebutkan bahwa yang membatalkan itikaf ada Sembilan;

  • Berhubungan suami-istri. Hal ini jelas sekali membatalkan itikaf. Karena berhubungan suami-istri berarti telah keluar dari masjid, tidak mungkin melakukan hal yang sifatnya privasi di muka umum.
  • Mengeluarkan sperma. Ketika keluar sperma alias mani, berarti seseorang berada pada kondisi hadats besar. Sehingga perlu bersuci terlebih dahulu
  • Mabuk dengan sengaja. Melakukan hal yang diharamkan seperti mabuk, akan merusak tatanan sahnya itikaf. Selain itu, orang yang mabuk berada dalam keadaan hilang akal.
  • Murtad, keluar dari Islam. Seseorang yang beritikaf namun murtad akan membatalkan itikaf tersebut. Hal ini karena orang yang keluar dari Islam, tidak mendapatkan perintah ataupun anjuran beribadah, baik ibadah wajib ataupun sunnah.
  • Haid, seorang wanita hanya sah itikaf pada masa suci seperti biasanya, sehingga wanita yang itikaf dan tiba-tiba haidmembatalkan itikafnya
  • Nifas
  • Keluar masjid tanpa alasan
  • Keluar untuk memenuhi kewajiban yang bisa ditunda
  • Keluar dengan beberapa alasan, padahal karena keinginannya sendiri.

Jika seseorang yang beritikaf melakukan hal di atas, maka batal-lah itikafnya. Batal juga kelangsungan itikaf yang terikat waktu berturut-turut. Sehingga harus mengawalinya dari awal, sedangkan itikaf mutlak, jika melakukan Sembilan hal tadi masih tetap sah itikafnya, dan berakhir sudah ibadah tersebut. Jika beritikaf lagi, niat dari awal kembali.

Hal-hal yang dianjurkan saat Itikaf

Panduan Itikaf

Panduan itikaf selanjutnya tentang hal-hal yang dianjurkan.  Menurut imam Nawawi dalam kitab al-Majmu ala Syarh al-Muhadzab mengutip pendapat Imam Syafii dan penikutnya bahwa.  Hal yang utama bagi orang yang beritikaf yaitu menyibukkan diri dengan ketaatan ibadah seperti melaksanakan shalat, bertasbih, berdzikir, membaca Al-Quran dan menyibukkan diri dengan ilmu seperti belajar, mengajar, membaca, dan menulis serta hal-hal sesamanya. Melakukan kegiatan tersebut tidak ada yang dihukumi makruh, dan tidak ada hal yang menyalahi keutamaan (khilaf al-aula).

Baca Juga: Paduan dan Bacaan Doa Sholat Tahajud

Dalam rujukan lain, dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ala madzhab  al-Imam as-Syafii juga menjelaskan tentang kesunnahan saat melakukan itikaf,

Pertama, menyibukkan diri dengan melaksanakan ketaatan pada Allah, seperti berdzikir, membeca Al-Quran dan berdiskusi ilmu agama. Sebab mengerjakan hal-hal tadi akan menuntun kepada maksud dari pelaksanaan itikaf.

Kedua, berpuasa. Beritikaf dalam keadaan berpuasa itu lebih utama dan semakin kuat dalam memeangi hawa nafsu, dapat memfokuskan pikiran dan menyucikan hati.

Ketiga, melakukan itikaf di masjid Jami’, yaitu masjid yang digunakan untuk shalat Jumat.

Keempat tidak berbicara kecuali perkataan yang baik. Maka, jelas sekal dilarang mengumpat, menggunjing, adu domba dan perkataan yang tidak ada gunanya, sia-sia. Panduan itikaf dengan rujukan kedua ini tentu dimaksudkan ketika melaksanakan itikaf di siang hari.

Demikian panduan itikaf, semoga kita selalu mendapatkan keberkahan (Zainal Abidin)

Zakat Sekarang