Sedekah Menolak Bala

6565

Sedekah menolak bala, bagaimana bisa?

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Apapun harta yang kalian infakkan maka Allah pasti akan menggantikannya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS. Saba’: 39)

Jika kita suka memberi, maka kita akan sering menerima. Begitu kira-kira gambaran yang terkandung dalam konsep sedekah dalam Islam.

Sedekah yaitu mengeluarkan sebagian harta, berapa pun jumlahnya, untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan (kaum lemah/dhuafa), mendanai kegiaan sosial dan dakwah, serta perjuangan di jalan Allah SWT. Sedekah juga bisa dalam bentuk immateri, seperti senyum, ilmu, dan tenaga.

Salah satu pahala sedekah adalah menghindarkan diri kita dari bencana atau musibah (sedekah menolak bencana), sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (HR. Baihaqi & Thabrani).

Sedekah Juga Menolak Bencana di Akhirat

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Muttafaqun ‘alaih).

“Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad).Wallahu a’lam.

Tak ada yang meragukan pahala shadaqah atau infak di jalan Allah. Di alam kubur sedekah akan memadamkan api siksa di dalam kubur (HR Thabrani). Di Hari Kebangkitan dan di padang Mahsyar mereka akan mendapat naungan Allah (HR Bukhari).

Pahala shadaqah tidak hanya dinikmati di akhirat saja, bahkan di dunia ini pun pelaku shadaqah bisa memetik keutamaannya. Salah satu keajaiban shadaqah yang bisa dirasakan di dunia adalah menjaga pelakunya dari keburukan dan musibah (daf’ul bala’).

Dalam riwayat al-Tirmidzi dan lainnya, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya shadaqah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk(hasan li-ghairihi)

Benar, shadaqah yang tulus ikhlas karena Allah dapat memadamkan kemarahan Allah sebagaimana air memadamkan api.

Maksud “kematian yang buruk (maitatas su’ atau mashari’s su’) adalah mati di atas kemaksiatan. Sebagian ulama lain menyebutkan, maksudnya adalah kematian yang Nabi SAW berlindung daripadanya, seperti: pikun, jatuh dari ketinggian, tenggelam, korban kebakaran, dan dikuasai syaitan saat sakaratul maut, kabur dari medan jihad fisabilillah.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau zalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya” (Al-Waabilus Shayyib, hal. 49, Darul Kitab Al-‘Iraqi, Beirut, 1405 H, Syamilah).

Kisah Sedekah di Masa Nabi Sulaiman AS

Sebuah kisah yang dinukil dari dari Kitab Tanqihul Qaulil Hatsits karya Syekh Nawawi Al-Bantani tentang Dahsyatnya Keutamaan Sedekah di masa Nabi Sulaiman:

Pada zaman Nabi Sulaiman AS, hidup seorang laki-laki yang mempunyai pohon besar di samping rumahnya. Di atas pohon tersebut terdapat sarang burung yang berisi beberapa anak merpati. Kemudian istri dari laki-laki itu menyuruhnya memanjat pohon besar itu dan mengambil anak merpati untuk dijadikan makanan bagi anak-anak mereka. Laki-laki itu pun lantas melakukanya.

Selepas kejadian itu, induk merpati menghadap baginda Nabi Sulaiman AS. Sang induk menceritakan kejadian tersebut. Akhirnya Nabi Sulaiman mengundang laki-laki itu dan menyuruhnya untuk bertobat. Laki-laki itu berjanji kepada Nabi Sulaiman untuk tidak akan mengulangi perbuatannya tadi.

Suatu ketika, si istri menyuruhnya untuk mengambil anak merpati lagi. Laki-laki itu pun berkata kepada istrinya, “Aku tidak akan melakukanya lagi. Sebab Nabi Sulaiman telah melarangku untuk berbuat yang demikian.” Istrinya menjawab, “Apakah kamu menyangka Nabi Sulaiman akan mempedulikan dirimu atau merpati itu? Sedangkan ia selalu sibuk dengan urusan kerajaannya.” Si istri tak henti-henti membujuknya agar ia mau melakukanya lagi. Hingga akhirnya ia terbujuk juga. Seperti biasanya ia memanjat pohon besar itu dan mengambil anak merpati lagi.

Induk merpati kembali menghadap Nabi Sulaiman dan mengadukan kejadian itu. Nabi Sulaiman pun menjadi marah karenanya. Kemudian Nabi Sulaiman memanggil dua setan, yang satu berasal dari ujung timur dan yang satunya berasal dari penjuru barat. Nabi Sulaiman AS berkata kepada dua setan itu, “Jagalah pohon besar itu. Dan ketika laki-laki itu mengulang perbuatannya mengambil anak merpati itu. Raih kedua kakinya dan jatuhkan ia dari pohon itu.”

Kedua setan itu pun bergegas pergi dan menjaga pohon itu. Ketika merpati sudah beranak lagi, laki-laki itu segera memanjat dan meletakkan kedua kakinya pada pohon itu. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis mengetuk pintu rumahnya. Lalu ia menyuruh istrinya untuk memberikan sesuatu pada istrinya itu. Lantas istrinya berkata, “Aku tidak punya apa-apa.” Laki-laki itu turun dari pohon dan mengambil segenggam makanan. Lalu ia memberikanya kepada si pengemis itu. Setelah itu ia kembali memanjat pohon dan mengambil anak merpati. Setelah itu, merpati kembali menghadap Nabi Sulaiman dan mengadukan kejadian tersebut kepadanya. Nabi Sulaiman bertambah marah.

Sedekah Menghindarkan Seseorang dari Mara Bahaya: Klik Disini

Kemudian ia memanggil kedua setan yang diberi tugas menjaga pohon itu. Nabi Sulaiman berkata pada kedua setan itu, “Kalian berdua telah mengkhianatiku!” Dua setan itupun menjawab, “Kami sama sekali tidak menghianatimu. Kami terus menjaga pohon itu. Hanya saja, ketika laki-laki itu memanjat pohon datanglah seorang pengemis mengetuk pintu rumahnya. Lalu ia memberikan segenggam gandum untuk pengemis itu. Saat ia kembali memanjat pohon, kami sudah bergegas untuk meraihnya. Namun tiba-tiba Allah mengutus dua malaikat. Salah satu dari mereka meraih leherku dan melemparku sampai di tempat terbitnya matahari. Sedang yang satunya lagi meraih leher sahabatku dan melemparnya sampai di tempat terbenamnya matahari.”

Hikmah Sedekah dari Kisah Nabi Sulaiman AS

Demikianlah sebuah cerita dari Kitab Tanqihul Qaulil Hatsits karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Betapa sedekah dapat menjadi sebab dihindarkannya seseorang dari mara bahaya. Sementara yang disedekahkan adalah barang halal. Namun jika yang disedekahkan adalah barang yang haram pasti akan berbuah celaka.

wallaahu a’lam. Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah tersebut dan mengamalkan sedekah dengan berbagai fadhilahnya. SEDEKAH SEKARANG

Ahmad Fauzi Qosim

Zakat Sekarang