Sejarah Kelam Banjir Mekkah 1941 Mengepung Kabah

78

Banjir Mekkah Tahun 1941 Menerjang Kabah

Bangunan paling suci yang terletak di Masjid Al-Haram, Mekkah, Arab Saudi memiliki sejarah panjang, dari serangan pasukan Abrahah hingga bencana seperti banjir. Meskipun begitu, Allah melindungi Kabah di Mekkah dari bencana banjir hingga terus berdiri kokoh sampai sekarang.

Luapan air bah terjadi karena curah hujan tinggi serta faktor geografis dan struktur tanah kota Mekkah. Mekkah terletak di antara bukit, lembah, dan termasuk dataran rendah. Di sisi lain, struktur tanah kota Mekkah terdiri dari batu-batuan keras, sehingga air sulit terserap.

Kapan Banjir Mekkah Menerjang Kabah? 

Infografis Kabah BanjirSebelum diangkat menjadi nabi, banjir besar melanda bangunan suci saat Nabi Muhammad berusia 35 tahun. Banjir menyebabkan dinding kabah retak hingga harus direnovasi.

Bukan hanya itu, banjir kembali menerjang Kabah saat masa khalifah Umar bin Khattab. Karena bencana tersebut, Kabah kembali rusak karena pada zaman itu bangunan Kabah terdiri dari komposisi batu yang direkatkan oleh tanah dan lumpur. Kerusakan tersebut harus segera diperbaiki.

baca juga: KISAH NABI NUH berdakwah 500 TAHUN  HINGGA terjadi BANJIR BESAR

Untuk mencegah banjir yang lebih parah, Umar bin Khattab membangun bendungan di sebagian lembah, seperti Lembah Fathimah. Usaha tersebut diteruskan pada dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Ottoman.

Akibat tingginya curah hujan, Kabah kembali dilanda banjir pada tahun 1039. Setelah itu, banjir tidak terjadi lagi hingga sembilan abad kemudian, yakni pada tahun 1941. Saat itu merupakan masa terburuk karena banjir merendam Kabah hingga ketinggian hampir setengah bangunan.

Banjir terparah yang terjadi pada 1941 disebabkan oleh cuaca ekstrem dan hujan deras yang mengguyur kota Mekkah selama seminggu saat siang dan malam. Maka dari itu, air meluap hingga membuat aktivitas di kota Mekkah dan Kabah lumpuh total.

Untuk mengurangi dampak yang berlebihan, pemerintah Arab Saudi melakukan renovasi drainase di sekitar Masjidil Haram. Hasilnya, pada 2009 dan 2012 air kembali menggenangi Kabah, tetapi tidak sampai badan bangunan. Lalu, pada pelaksanaan haji tahun 2017 dan 2019, hujan sempat turun, tetapi tidak menimbulkan air meluap di kawasan Masjidil Haram dan Kabah.

Doa Hujan yang Baik dan Berkah 

Masih belum yakin atau belum hafal doa ketika hujan dan mendengar petir? Yuk, tonton video singkat di bawah ini. Mudah diikuti, loh!

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيًّا وَسَيِّبًا نَافِعًا

Allahumma shayyiban haniyya wa sayyiban nafi‘a.

Artinya: “Wahai Tuhanku, jadikan ini hujan terpuji kesudahannya dan menjadi aliran air yang bermanfaat.”

Kemudian, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk berdoa saat hujan turun karena waktu yang mustajab.

اطْلُبُوا اسْتِجابَةَ الدّعاءِ عِنْدَ التِقاءِ الجُيُوشِ وَإقَامَةِ الصَّلاةِ وَنُزُولِ الغَيْثِ

Artinya: “Burulah manjurnya doa ketika perang berkecamuk, iqamah shalat, dan turunnya hujan.”

Tidak lupa pula berdoa agar hujan mendatangkan manfaat untuk alam:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ ، وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ 

Artinya:
“Ya Allah turunkan hujan ini di sekitar kami jangan di atas kami. Ya Allah curahkanlah hujan ini di atas bukit-bukit, di hutan-hutan lebat, di gunung-gunung kecil, di lembah-lembah, dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR Bukhari Muslim).

Peristiwa banjir pada Kabah mengingatkan kita semua kalau bencana tidak mengenal waktu dan tempat. Tidak ada bencana yang remeh temeh bagi siapapun yang mengalaminya. Banjir bukanlah masalah sepele karena tidak ada makhluk hidup yang ingin terkena dampaknya.

Aku, kamu, dan kita semua harus saling menguatkan di waktu sulit. Mari, saling rangkul melalui donasi kemanusiaan di Dompet Dhuafa. Klik di sini untuk membantu korban bencana banjir.

Zakat Sekarang