13 September 2019

Zakat untuk Anak Yatim

Zakat Anak Yatim

Ilustrasi Anak-anak Yatim. Sumber: pixabay

Anak yatim ternyata adalah salah satu penerima zakat yang sering sekali kita jumpai. Di jalanan, di trotoar bahkan di rumah makan banyak sekali sekelompok orang yang menggalang zakat untuk anak yatim. Mengapa demikian?

Karena menyantuni anak yatim adalah hal yang sangat Allah sukai. Ditambah lagi, Allah menempatkan anak yatim sebagai tempat yang tertinggi di dalam Al Quran. Seberapa pentingnya anak yatim dalam Al Quran itu? Yuk, kita telusuri 5 (lima) hal penting pada zakat anak yatim, agar semangat untuk berbagi selalu memupuk dalam jiwa.

Baca Juga: Hukum Zakat untuk Anak Yatim

1. Hukum Anak Yatim menjadi Penerima Zakat

Dalam Al-Qur’an pada Surat At-Taubah anak yatim bukan termasuk golongan orang-orang yang dapat menerima zakat. Adapun pada Firman Allah SWT sebagai berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Namun jika anak yatim tersebut memenuhi kriteria maka berhak menerima zakat. Kriteria yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, orang yang dililit utang, orang yang berjuang di jalan Allah, dan musafir.

2. Golongan Penerima Zakat dalam Al Quran

Berikut penjelasan delapan golongan yang terdapat dalam QS.At-Taubah adalah sebagai berikut:

  1. Fakir adalah yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari
  2. Miskin, berbeda dengan fakir yang hampir tidak memiliki apapun, namun golongan miskin yaitu masih memiliki harta. Hartanya tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  3. Amila adalah tim yang mengumpulkan dan menerima zakat. Berkontribusi untuk menyalurkan zakat dari masyarakat untuk masyarakat yang tidak mampu.
  4. Muallaf adalah seseorang yang baru saja memasuki agama islam dan masih membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan dirinya.
  5. Hamba Sahaya berhak untuk mendapatkan zakat dikarenakan adalah budak yang ingin memerdekakakn diri,
  6. Gharim adalah golongan yang dililit oleh utang untuk memenuhi kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya.
  7. Fisabilillah berhak untuk menerima zakat dikarenakan mereka berjuang di jalan Allah SWT yaitu berperang, berdakwah, dan lainnya.
  8. Ibnu Sabil adalah golongan yang kehabisan bekal diperjalanan atau musafir, sehingga mereka berhak untuk mendapatkan zakat.

Jika anak yatim tersebut memenuhi persyaratan diantara golongan tersebut, maka anak yatim berhak untuk mendapatkan zakat. Namun jika anak yatim tersebut hidup serba lebih, dan tidak termasuk golongan diatas tersebut, maka tidak berhak untuk menerima zakat.

Baca Juga: Inilah 8 Golongan Orang Yang Berhak Menerima Zakat

3. Batasan Umur Anak Yatim

Dalam memberikan zakat kepada anak yatim tentulah ada batasan umur. Batasan umur anak yatim laki-laki yang dapat menerima zakat yaitu  balig (mencapai usia nikah).

Hal tersebut  sesuai dengan ayat dalam Alquran Allah SWT berfirman dalam Al-Quran pad Surat An-Nisa ayat 6

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

Artinya: “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)” (QS An-Nisa:6).

Saat  menjelaskan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir berkata, “Menurut Mujahid, telah sampai usia nikah, maksudnya telah bermimpi basah. Mayoritas ulama mengatakan, mencapai usia balig pada laki-laki ialah ketika dia bermimpi dalam tidurnya, sehingga keluar sperma. Sekitar telah mencapai usia 15 tahun, berdasarkan hadis dari Abdullah bin Umar Ra, bahwa dia berkata,

“Aku menghadap Nabi SAW dalam perang Uhud, ketika itu usiaku 14 tahun, lalu Nabi tidak mengizinkanku ikut perang. Kemudian aku menghadap beliau dalam perang Khandaq, ketika usiaku 15 tahun, lalu beliau membolehkan aku.'” (HR Bukhari-Muslim)

Pada batas untuk anak yatim perempuan adalah ketika dia sudah siap menikah. Wanita tersebut sudah siap dari sisi kematangan agama dan siap mengatur hartanya sendiri. Hal ini sesuai konteks Surat An Nisaa ayat 1-10 yang memang membahas posisi anak yatim perempuan.

4. Manfaat Zakat Anak Yatim

Allah SWT sangat menyayangi hamba-Nya yang senantiasa berbagi dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Sehingga Allah SWT akan memberkahkan dan memudahkan urusannya selalu juga. Adapapun berbagai manfaat dari mengeluarkan zakat anak yatim  sebagai berikut:

  • Menyejukkan dan menenangkan Hati
  • Pahala Terus Mengalir
  • Menjauhkan Diri dari Api Neraka
  • Terhindar dari Bencana
  • Memperpanjang Umur
  • Harta yang Berkah

Adapun dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah, bahwa menolong anak yatim akan memperoleh banyak keberkahan, sebagai berikut:

“Dengan menyantuni dan memelihara anak yatim, maka akan banyak kelimpahan berkah yang ada pada rumah tersebut tidak peduli seberapa bagus atau jelek rumah tersebut. Sebaik-baik rumah di kalangan kaum muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah di kalangan kaum muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim dan dia diperlakukan dengan buruk.” (HR. Ibnu Majah)”

5. Cara Menyantuni Yatim

Pada hakikatnya menyantuni anak yatim itu adalah dengan cara membawa anak yatim ke dalam keluarga, mencukupi kebutuhannya, mengajari, mendidiknya sampai balig. Hal tersebut adalah bentuk santunan kepada anak yatim yang paling utama bagi umat muslim. Para penjamin anak yatim harus dapat memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri dalam hal sandang, pangan, dan pendidikan.

Pada Hadits Riwayat Bukhari Muslim Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai para wanita, bersedekahlah walaupun dari perhiasan kamu.”  Zainab berkata, “Aku pergi kepada Abdullah (Ibnu Mas’ud) dan berkata, “Sesungguhnya engkau adalah laki-laki  ringan yang suka membantu, sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kami (para wanita) untuk bersedekah. Maka, datanglah kepadanya dan tanyakan barang kali sedekah kepadamu sudah dianggap sedekahku. Bila tidak, maka aku akan keluarkan sedekah kepada selain kamu.”

Kemudian Zainab mengatakan, maka Abdullah bin Mas’ud berkata kepadanya. “Kamu sajalah yang datang”. Zainab pergi menemui Rasulullah dan di depan pintu rumah Rasulullah ada perempuan Anshar yang punya kebutuhan yang sama. Kemudian, datang Bilal, Zainab berkata kepadanya dan memohon kepada Bilal untuk menyampaikan kepada Rasulullah. Ia menyampaikan bahwa ada dua orang perempuan yang sedang menunggu di depan pintu rumahnya.

Lalu Ia bertanya tentang sedekah kepada suami dan anak-anak yatim di rumah mereka, apakah mereka itu akan mendapat balasan pahala? Bilal pun masuk dan menyampaikan pertanyaan tersebut. Rasulullah SAW bertanya, “Siapa mereka berdua?” Bilal menjawab, “Seorang wanita Anshar dan Zainab.” Nabi SAW bertanya, “Zainab yang mana?” Bilal berkata, “Zainab istri Abdullah (Ibnu Mas’ud).

Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal, “Mereka berdua mendapatkan dua pahala, yakni pahala menjaga kekerabatan dan pahala sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: 7 Manfaat Bayar Zakat via Lembaga

Nabi Muhammad Rasulullah SAW mengatakan bahwa terdapat  3 (tiga) amalan yang pahalanya tidak akan terputus meski seseorang telah meninggal dunia. Tiga amalan tersebut adalah, sedekah jariyah, doa anak yang saleh, serta ilmu yang bermanfaat. Maka jadilah umat muslim yang senantiasa menaungi anak yatim, saling memberi dan mengasihi untuk kebaikan mencapai ridho Allah SWT. Dengan memakmurkan anak yatim, berarti kita mencerahkan masa depan mereka  baik di dunia serta akhirat serta mendatangkan kebaikan untuk kehidupan. (Glenzi Fizulmi)

Zakat Sekarang
Bagikan :

Konsultasi ZISWAF

Foto Ustadz Zul Ashfi DD

Pertanyaan:  Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh Saya ingin bertanya tentang zakat harta warisan. Saya seorang ibu dari 3 anak (2 anak laki-laki dan 1…

Download PDF Panduan Zakat

Download Panduan Zakat

Informasi lengkap dan praktis untuk mempelajari zakat secara komprehensif.

Download Panduan Zakat di sini !
Kalkulator zakat

Kalkulator Zakat

Program yang akan membantu menentukan jumlah besaran Zakat yang akan Anda tunaikan.

Hitung Zakat Anda di sini !