Beda Lafal Doa Buka Puasa yang Wajib Kamu Ketahui

652

Kemuliaan bulan Ramadhan begitu besar. Semua amalan kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt. Sekecil apapun amalan itu menjadi begitu berharga saat dilakukan di bulan Ramadhan. Bahkan, bisa jadi amalan kita dilipatgandakan hingga ratusan kali lipat pahalanya di sisi Allah Swt.

Salah satu amalan yang tidak pernah dilupakan saat bulan suci Ramadhan adalah doa sebelum berbuka puasa. Doa ini sudah diajarkan kepada kita sedari kita masih kecil. Namun, seringkali kita menemukan perbedaan lafal doa berbuka puasa yang dibacakan oleh umat Islam.

Seperti apa sajakah doa berbuka puasa yang wajib kita ketahui?

Waktu berbuka puasa ditandakan dengan kumandang adzan magrib. Walaupun setiap daerah memiliki waktu berbuka yang berbeda-beda, bukan berarti niat doa buka puasa kita berbeda dengan lainnya. Ini karena puasa kita adalah ibadah wajib kita selama bulan Ramadhan.

Kita juga diperintahkan untuk menyegerakan berbuka sebagaimana sabda Rasulullah Saw berikut:

لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Artinya: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” (Hadits Riwayat Bukhari 4/173 dan Muslim 1093)

Meski kita diperintahkan untuk menyegerakkan berbuka puasa, bukan berarti kita harus terburu-buru. Jangan sampai kita melupakan doa berbuka puasa yang mengandung makna dan pahala yang besar. Ada beberapa doa yang kita kenal yang telah diajarkan oleh para ulama secara turun menurun.

  1. Doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim

Doa ini merupakan doa yang lazim diamalkan di Indonesia berasal dari sahabat Nabi, Muaz bin Zuhrah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Bukhari, dan Muslim sebagai berikut.

للَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، اَللَّهُمَّ تَقَبَّل مِنَّا، اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ

Artinya, “Duhai Allah, untuk-Mu-lah aku berpuasa, atas rezekimulah aku berbuka.” (HR. Abu Dawud, Bukhari, dan Muslim).

Doa ini biasanya dilafalkan dengan menambahkan lafal wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Bacaan inilah yang paling banyak bergema di negeri kita.

  1. Doa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud

Kemudian yang umum dibaca kedua berasal dari sahabat Mabi Muhammad, Abdullah bin ‘Umar yang juga diriwayatkan Abu Dawud sebagai berikut:

 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

Artinya, “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR. Abu Dawud).

Beberapa ulama di Indonesia lebih memilih doa ini sebagai doa yang lebih tepat untuk dipanjatkan saat berbuka puasa.

  1. Doa yang bersumber dari Anas bin Malik

Doa lainnya yang dapat dibaca bersumber dari sahabat Anas bin Malik yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan Al-baihaqi sebagai berikut:

 اللهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مَنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya, “Duhai Allah, untuk-Mu puasaku dan atas rizki-Mu aku berbuka, maka terimalah dariku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. (HR.Ibnu Abi Syaibah dan lainnya)

Baca Juga: PUASA TANPA ZAKAT FITRAH? NGGAK SEMPURNA

  1. Gabungan doa buka puasa dalam kitab Fath al-Mu’in karya Zaynuddin al-Malibari

Ulama dari Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud. Demikian disebutkan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi berikut ini:

Bacaan latinnya, “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu, zahabadh dhamâ’u wabtalatl-‘urûqu wa tsabata-l-ajru insyâ-Allâh.”

Artinya, “Duhai Allah, untuk-Mu-lah aku berpuasa, atas rezekimulah aku berbuka.Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insyaAllah.”

Dalam menanggapi perbedaan tersebut, beberapa ulama ada yang berpendapat doa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud lebih shahih dari pada doa yang lain. Akan tetapi, semua tetap dikembalikan kepada masing-masing muslimin dengan keyakinan yang mengiringi hatinya. Wallahu’alam.

Zakat Sekarang