Kelahiran Nabi Muhammad di alam semesta ini merupakan nikmat yang sangat agung dan wajib disyukuri. Melalui beliau, manusia dikeluarkan dari peradaban kegelapan masa Jahiliyyah menuju cahaya keindahan Islam yang masih kita rasakan hingga saat ini. Namun, bagaimana cara memaknai rasa syukur yang perlu diperhatikan. Di Indonesia perayaan rasa syukur terhadap kelahiran Rasulullah ini sering disebut sebagai Maulid Nabi. Secara bahasa, Maulid Nabi atau Milad Nabi berarti tempat dan waktu kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Untuk memahami berdasarkan definisinya, kita perlu meninjau dua hal penting tentang Maulid Nabi, yaitu waktu kelahiran dan tempat kelahiran. Berikut penjelasan lengkap tentang definisi Maulid Nabi dari perspektif ilmu hadits dan sejarah berdasarkan buku Polemik Perayaan Maulid Nabi Shalallahu ‘Alai Wassalam karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi.
-
Daftar Isi
Hari Kelahiran Nabi
Kesepakatan ulama menyebutkan bahwa Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin. Hal ini didasarkan pada hadits dari Abu Qotadah al-Anshari, yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabd “Itu adalah hari aku dilahirkan, aku diutus, atau wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim, no. 1162)
-
Bulan Kelahiran Nabi
Mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi ﷺ dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Jauzi rahimahullah, yang mencatat ijma’ (konsensus) tentang hal ini. Ada pula yang berpendapat bulan Dzulqa’dah, Rojab, atau Ramadhan, namun pendapat-pendapat tersebut dianggap tidak kuat. Ibnu Katsir menegaskan bahwa pendapat yang mengatakan beliau lahir di bulan Ramadhan adalah pendapat yang aneh dan ganjil, yang diriwayatkan oleh seseorang yang tidak terpercaya.
Baca Juga : 5 Makna Maulid Nabi Muhammad SAW, Wajib Tahu!
-
Tanggal Kelahiran Nabi
Beberapa ulama memiliki pendapat sangat bervariasi tentang tanggal kelahiran Rasulullah, seperti:
- 2 Rabi’ul Awal, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan al-Waqidi.
- 8 Rabi’ul Awal, dikuatkan oleh al-Humaidi, Ibnu Hazm, Imam Malik, dan lainnya. Dukungan dari banyak ulama dan sejarawan, termasuk al-Hafizh Muhammad bin Musa al-Khowarizimi dan Ibnu Dihyah.
- 10 Rabi’ul Awal, diriwayatkan Ibnu Asakir dari Abu Ja’far al-Baqir, dan Mujalid dari Sya’bi.
- 12 Rabi’ul Awal, dipertegas oleh Ibnu Ishaq dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari ‘Affan, Sa’id bin Mina, Jabir, dan Ibnu Abbas.
- 17 Rabi’ul Awal, dinukil oleh Ibnu Dihyah dari sebagian aliran Syi’ah.
-
Tahun Kelahiran Nabi
Semua ulama sepakat bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dilahirkan pada tahun Gajah. Ucapan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dilahirkan pada tahun Gajah. Pendapat ini ditegaskan oleh Khalifah bin Khoyyath, Ibrahim bin Mundzir al-Hizami (salah seorang guru Imam al-Bukhari, dan Ibnu Katsir, yang menyebutkan bahwa ijma’ ulama ini.
-
Tempat Kelahiran Nabi
Tanpa disangsikan oleh ulama, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dilahirkan di Mekkah. Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa beliau dilahirkan di Mekkah.
Namun, lokasi pastinya hingga kini masih menjadi perdebatan. Beberapa sejarawan menyebut bahwa tempat kelahiran berada di lembah Bani Hasyim, dekat dengan pasar Mekkah, yang kini menjadi pusat Maktabah Mekkah Mukarromah. Namun, keaslian tempat ini masih diragukan oleh para pakar sejarah.
Baca Juga : Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir sampai Wafat
Meskipun perbedaan terjadi dalam menentukan waktu dan tempat kelahiran, yang perlu ditekankan yaitu menghargai dan bersyukur atas karunia Allah dengan terus memahami dan meneladani ajaran Nabi ﷺ secara benar. Sekalipun kita tidak tahu secara pasti tanggal, bulan, atau tahunnya, sejarah dan ajaran Nabi tetap menjadi cahaya bagi seluruh umat manusia, hingga akhir zaman. Salah satu bentuk syukur yang patut terus kita pertahankan yaitu dengan mengimani apa yang sudah Allah SWT sampaikan dalam surat Ali Imran ayat 164.
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Ali Imran: 164)


