Mengenal Sejarah Al-Qur’an

1166

Sejarah Al Quran

Sahabat mari kita mengenal sedikit tentang Sejarah Al Quran. Sebagai umat Islam kita pasti sudah tahu bahwa Al-Qur’an (القرآن) merupakan kallam Allah Subhanahu wa ta’ala yang memiliki keistimewaan dari pada kitab-kitab lainnya. Tapi sudahkah kita mengetahui bagaimana sejarah diturunkannya Al Quran. Kurang rasanya jika kita hanya sekedar membaca dan menghafal saja tanpa mengetahui sejarah Al Quran.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah bentuk kata benda infinitif (mashdar) dari kata qara`a (قرأ) yang bermakna membaca atau mengumpulkan. Sedangkan menurut terminologi Al-Qur’an adalah kitab suci yang berisi firman atau wahyu Allah ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebagai mukjizat melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an terdiri atas 114 surat dan dibagi menjadi 30 bagian atau disebut juz. Jumlah seluruh ayatnya ada 6.666 buah.

Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an sebagai satu mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad, dan keberadaan Allah SWT dengan segala sifat-sifat kesempurnaanNya. Membaca Al-Qur’an dan menghayati dan mengamalkannya adalah satu ibadah. Ia merupakan satu kitab panduan hidup manusia dan referensi utama umat Islam di samping sunnah Rasulullah.

Sejarah Periode Turunnya Al Quran

Al-Qur’an di turunkan melalui perantara malaikat Jibril yang menyampaikan langsung kepada Rasulullah SAW. Proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap atau mutawatir selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Para sebagian ulama membagi periode turunnya Al-Qur’an dalam dua periode. Periode Mekkah sebelum hijrah, surat-surat yang turun pada waktu ini disebut (ayat-ayat makkiyyah) yang berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dengan jumlah 86 surat. Kemudian periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah hingga sesudah hijrah. Surat-surat yang turun pada waktu ini disebut (ayat-ayat madaniyyah), berlangsung selama 10 tahun dengan jumlah 28 surat.

Pada permulaan turunnya wahyu yang pertama adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 bertempat di Gua Hira saat Nabi Muhammad SAW sedang menyendiri bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan dan sebelum Nabi hijrah sekitar tahun 610 M pada tanggal 6 Agustus.

Saat itu Nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi Rasul, hanya berperan sebagai Nabi biasa yang belum ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya. Sampai pada turunnya wahyu yang kedua barulah Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah yang artinya:

“Wahai yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan” (QS. Al-Muddassir (74):1-2)

Adapun Wahyu terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3 yang di turunkan di Jabal Rahmah pada saat Haji Wa’da bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H atau 27 Oktober 632 M.

Awal Mula Pembukuan Al-Qur’an 

Pada Masa Rasulullah SAW 

Dengan keterbatasannya karena tidak dapat membaca dan menulis. Ketika setiap Rasulullah SAW mendapatkan wahyu, beliau langsung menyampaikannya kepada para Sahabat. Adapun Sahabat yang ditunjuk untuk menuliskan Al-Qur’an yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Penulisan Al-Qur’an tercatat masih sederhana dan berserakan pada beberapa media seperti pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat Rasulullah SAW langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

Penulisan Al-Qur’an pada saat itu belum terkumpul menjadi satu mushaf, karena tidak ada faktor pendorong dalam membukukan Al-Qur’an mengingat Rasulullah SAW masih hidup dan para Sahabat juga menghafal. Alasan lain, karena Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur atau bertahap.

Pada Masa Khalifah Abu Bakar

Pada masa ini banyak para sahabat Hafidz mati Syahid karena ikut berperang. Sehingga Utsman bin Affan mulai risau dan memikirkan masa depan akan Al-Qur’an. Kemudian sedikit berdialog dengan Khalifah Abu Bakar untuk pengumpulan kembali Al-Qur’an. Akhirnya beliau meminta Zaid ibn Tsabit (salah satu mantan juru tulis Nabi Muhammad SAW). Untuk mengumpulkan kembali dan menuliskan Al-Qur’an agar menjadi lembaran yang dapat disatukan.

Setelah Al-Qur’an sudah menjadi satu mushaf yang tersusun secara rapih, kemudian mushaf tersebut disimpan oleh Abu Bakar hingga beliau wafat. Utsman bin Affan yang menjadi penerus pemegang mushaf hingga beliau wafat, sehingga diteruskan oleh anaknya yang bernama Hafshah binti Utsman bin Affan yang juga salah satu istri Nabi Muhammad SAW.

Pada Masa Utsman bin Affan

Agama Islam semakin menyebar luas, sehingga menyebabkan perbedaan pengucapan beberapa kata dalam Al-Qur’an. Maka Utsman bin Affan berinisiasi membuat standar Al-Qur’an atau biasa kita menyebutnya dengan Mushaf Utsmani. Dalam hal ini dibentuklah satu panitia oleh Utsman bin Affan, terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdur rahman bin Harits bin Hissyam. Tujuannya untuk membukukan Al-Qur’an, yakni dengan menyalin dari lembaran-lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an itu menjadi sebuah buku. Dan menyeragamkan penulisan serta pembacaannya yang sesuai dengan dialek suku quraisy, sebab konon alqur’an diturunkan menurut dialek suku tersebut.

Karena mushaf ini dianggap sah, hingga pada akhirnya pada masa Utsman bin Affan inilah mushaf mulai didistribusikan ke beberapa negara. Seperti, Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan Madinah sampai  ke negara Islam lainnya.

Dari sejarah tersebut kita menjadi lebih mengetahui asal-usul dan proses terbentuknya Al-Qur’an, mengingat yang isinya merupakan sebuah petunjuk kepada manusia.

Sahabat, penyebaran Al-Qur’an juga sampai ke negara Indonesia. Namun, negara dengan dengan mayoritas kaum Muslim, penyebaran Al-Qur’an belum merata sampai Nusantara. Padahal banyak mimpi-mimpi penerus bangsa ingin menjadi seorang Hafidz Quran. Mari bersama membangun generasi Qurani hingga pelosok negeri dengan ikut penuhi kebutuhan Al Qur’an bersama Dompet Dhuafa.

 

*Diolah dari beberapa sumber, Wikipedia.org, Kedesa.id, Suaramuslim.net

 

Zakat Sekarang