Sejarah Nuzulul Quran 17 Ramadhan Bermula dari Kegelisahan Rasulullah

731

Nuzulul Quran Terjadi pada 17 Ramadhan

Nuzulul Quran peristiwa turunnya Al Quran terjadi 17 Ramadhan

Nuzulul Quran merupakan peristiwa penting yang terjadi pada 17 Ramadhan. Dahulu, saat genap berusia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW diliputi rasa kekhawatiran. Rasulullah gelisah melihat sikap kaumnya yang semakin jahiliah atau disebut sebagai zaman kebodohan.

Dalam Islam, zaman jahiliah adalah masa di mana penduduk berada dalam ketidaktahuan atau saat manusia bertindak tidak sesuai dengan ajaran agama.

Kegelisahan hati inilah yang membuat Rasulullah senang menyendiri. Rasulullah kemudian meninggalkan rumah menuju perbukitan. Lalu menyepi di Gua Hira. Di sana Rasulullah beribadah dan berdoa, sebagaimana ajaran agama Ibrahim terdahulu, yaitu Tauhid (menyembah Allah SWT).

Baca juga: Sudahkah Kita Menyambut Ramadhan dengan Gembira?

Saat itulah awal mula Nabi Muhammad menerima wahyu pertama atau turunnya Al Quran untuk pertama kali yang kita kenal dengan Nuzulul Quran. Peristiwa tersebut menjadi salah satu kemuliaan yang terdapat pada bulan Ramadhan.

Mengenal Nuzulul QuranPeristiwa Nuzulul Quran 17 Ramadhan terjadi di Gua Hira

Nuzulul Quran adalah peristiwa awal turunnya Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap. Saat itu, Rasulullah berdiam diri di Gua Hira, Jabal Nur, yang berjarak lebih kurang 6 km dari Mekkah. Pada malam 17 Ramadhan, terjadi peristiwa turunnya ayat pertama Al Quran, yakni surat Al-Alaq ayat 1-5, melalui perantara malaikat Jibril.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Peristiwa Nuzulul Quran berbeda dengan Lailatur Qadar, walaupun keduanya merupakan peristiwa turunnya Al Quran, namun Lailatul Qadar adalah turunnya Al Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia).

Periode Turunnya Al QuranTurunnya Al-Quran secara berangsur-angsur

Al Quran sendiri diturunkan dalam dua periode. Periode pertama turun ketika bulan Ramadhan, tepatnya pada peristiwa Nuzulul Quran 17 Ramadhan. Pada saat itu, Al Quran turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia. Dalam prosesnya, terdapat beberapa pendapat.

Dalam Al-quran Surat Ad Dukhan ayat 3 disebutkan,

“Sesungguhnya Kami turunkan Alquran pada malam yang diberkahi.”

Ayat ini menjadi penguat pada ayat lainnya di dalam Surat Al Baqarah 185:

”Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran.”

Dua ayat di atas menjadi isyarat turunnya Al-quran periode pertama, berada pada bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Periode pertama turun sekaligus dari Allah kepada dunia.

Sedangkan pada periode ke dua, prosesnya tak sama dengan periode pertama. Al Quran diturunkan dari langit dunia menuju permukaan bumi, yaitu ke dalam diri Rasulullah SAW. Proses ini berlangsung secara bertahap, karena Rasul menjadi jembatan untuk menyampaikan Al Quran secara terang-terangan dan dibutuhkan sekitar 23 tahun lamanya.

Baca juga: Mengenal Sejarah Al-Quran

Hal ini tentu mengandung hikmah untuk umat islam bahwa kehadiran Al Quran tidak langsung utuh 30 juz, melainkan secara bertahap. Selain itu, ayat di dalam Al Quran juga disajikan dengan menyesuaikan konteks, mudah dipahami, mudah dihafalkan, dan menghadirkan kesan mendalam bagi pembacanya.

Mengilhami kalam Allah dengan hati yang penuh syukur, tentunya membuat kisah Nuzulul Quran bisa kita dimaknai dengan indah. Al Quran adalah penyempurna pedoman hidup manusia sejak zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Tentu saja, dengan berpegang padanya dan mengamalkan petunjuknya akan menjadi sebuah ladang pahala untuk umat manusia.

Hikmah Nuzulul Quran: Kitab Suci sebagai Pedoman Hidup

Peristiwa Nuzulul Quran tentunya memberikan hikmah yang cukup besar untuk umat islam. Salah satunya adalah anjuran untuk membaca dan mempelajari kandungan Al Quran untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam mempelajari Al Quran dan menjadikannya pedoman hidup, yaitu:

1. Melafadzkan atau Membaca Al Quran

Aktivitas membaca Al Quran merupakan cara yang paling awal untuk bisa menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup kita. Meluangkan waktu setiap harinya untuk membaca Al Quran, selain mendatangkan pahala juga mendatangkan keberkahan.

Rasulullah SAW bersabda:

اقْرَؤوا القُرْآنَ، فإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القيامةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

“Bacalah Al Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR Muslim)

2. Menghapalkannya

Menghapal Al-Quran saat bulan Ramadhan

Kegiatan menghafal Al Quran adalah langkah kedua yang dapat menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup. Selain sebagai sebuah mukjizat, ternyata Al Quran juga merupakan satu-satunya kitab suci yang mudah dihafal di antara kitab samawi lainnya.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS al-Qamar (54) ayat 17:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran itu?”

Baca juga: 5 Keutamaan Membaca dan Menghafal Al Quran

3. Mentadaburinya di Malam Nuzulul QuranTadabbur Al-Quran atau belajar Al- Quran dengan sungguh-sungguh

Langkah ketiga untuk menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup adalah dengan berusaha untuk memahami dan mentadabburinya.

Tadabbur memiliki pengertian memperhatikan dengan seksama. Mentadabburi Al Quran adalah langkah atau usaha mencari tahu makna dan maksud dari sebuah lafadz. Hal ini tentunya tidak akan bisa kita lakukan, jika kita membaca Al Quran secara tergesa– gesa.

Dalam mentadabburi Al Quran, penting untuk kita membaca secara perlahan, sambil memperhatikan dengan seksama. Dan jika tadabur Al Quran bisa kita lakukan dengan baik, maka makna dan maksud apa yang terkandung dalam Al Quran insya Allah bisa kita pahami.

4. MengamalkannyaBeramal saat tanggal 17 Ramadhan

Berusaha untuk mengamalkan setiap ayat yang terkandung dalam Al Quran adalah hal yang tidak boleh kita lupakan. Proses untuk bisa mengamalkan ini dapat dipahami dengan cara menjadikan setiap aktivitas kita sesuai dengan tuntunan Alquran, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Kita dapat mulai mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari lewat hal – hal kecil yang dilakukan secara istiqomah (konsisten). Contohnya adalah mengamalkan perintah bersedekah.

Sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar As Siddiq, yang menginfakkan sebagian hingga seluruh harta terbaiknya. Dan juga Aisyah Ra yang menginfakkan hampir sebesar 1 Miliar/tahun pada masa itu. Hal tersebut menunjukkan begitu diutamakannya bersedekah dalam Al Quran.

Kita pun bisa mencontoh perilaku sahabat di masa lalu untuk kehidupan saat ini. Menyisihkan rezeki dan harta kita untuk dijadikan sebagai harta sedekah. Semoga Allah SWT memberikan kelancaran rezeki, kita bisa istiqomah dalam mengamalkannya.

Zakat Sekarang