Bulan Safar: Benarkah Sebagai Bulan Malapetaka? Adakah Keutamaan Khusus?

580
Bulan Safar dan Keutamaannya yang Patut Dipahami

Safar merupakan bulan kedua dalam kalender hijriah setelah bulan Muharram. Tidak seperti bulan suci atau bulan haram dalam kalender islam, bulan safar ini sering dianggap sebagai bulan sial. Sebagian masyarakat Indonesia bahkan tidak berani menggelar hajatan karena mempercayai akan mendapat nasib buruk jika diadakan dibulan Safar. Bahkan kepercayaan ini seakan-akan diwarisi secara turun menurun dari generasi ke generasi. Lalu, seperti apa sebenarnya bulan safar? Bagaimana sejarah dari bulan kedua dalam islam ini? Apakah benar bulan safar sebagai bulan yang penuh malapetaka? Hingga apa sajakah keutamaan bulan safar? Artikel ini akan menjawabnya secara lengkap agar umat islam tidak salah paham lagi tentang bulan safar. Yuk, simak penjelasannya berikut.

Sejarah Bulan Safar

Bagaimana Sejarah Bulan Safar

Mengapa dinamakan Safar? Safar (صفر) terdiri dari huruf shad, fa’, dan ra’ yang bila digabungkan akan membentuk kata yang beragam. Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul ‘Arab mendefinisikan gabungan tiga huruf tersebut sebagai shufrah yang berarti kuning atau dapat diartikan sebagai shafar yang berarti kosong. Penamaan safar dalam konteks ini lebih dekat dengan makna kosong, sepi, atau sunyi. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsîrubnu Katsîr menjelaskan bahwa nama bulan Safar berkaitan dengan kondisi masyarakat Arab saat itu yang sepi ditinggalkan penghuninya untuk berperang maupun bepergian. Menurut sebagian ulama dalam kitab Muhakkam, kepergian bangsa Arab ini untuk mengumpulkan makanan ke berbagai penjuru tempat yang dilakukan dengan cepat karena menghindari teriknya sinar matahari musim shaif (panas). 

Penjelasan lain dari Ibnu Manzhur menjelaskan penamaan Safar dikarenakan beberapa alasan, pertama seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir tentang ditinggalkan penduduknya. Kedua, bangsa Arab pada saat itu memiliki kebiasaan memanen semua tanaman kemudian mengosongkan lahan-lahan mereka. Ketiga, pada bulan Safar orang-orang Arab memiliki kebiasaan untuk memerangi setiap kabilah yang datang hingga harus pergi meninggalkan Arab tanpa bekal (kosong). 

Selain dari kondisi masyarakat, sebagian orang arab mengartikan Safar sebagai jenis penyakit perut mematikan yang berbentuk ular besar. Pada zaman jahiliyah, bulan safar disebut sebagai bulan najir (panas) karena pada bulan tersebut cuaca sangat panas sehingga dianggap sebagai bulan yang penuh malapetaka, mendatangkan musibah, dan banyak penyakit.

Benarkah Bulan Safar sebagai Bulan Sial?

Hanya Allah-lah Yang Maha Menetapkan

Berdasarkan sejarah penamaan bulan safar yang telah dijelaskan sebelumnya, ternyata anggapan bulan safar sebagai bulan sial tidak hanya ada di Indonesia saja. Kepercayaan masyarakat Arab menganggap bulan safar sebagai bulan banyak malapetaka diakibatkan karena efek terjadinya banyak peperangan dan pembunuhan setelah terlewatinya 3 bulan haram/suci berturut-turut.

Ketiga bulan mulia ini, yakni bulan Dzulkaidah,  Dzulhijah, dan Muharram merupakan bulan yang dihindari untuk melakukan peperangan. Oleh karena itu, ketika bulan safar datang bertepatan selesainya ketiga bulan suci sehingga orang-orang bangsa Arab yang mempunyai amarah dan dendam dengan musuh-musuhnya, langsung melampiaskan tanpa ada batasan lagi.

Dilansir dari mui.or.id, dalam buku “Pokok-Pokok Akidah yang Benar”, apabila mempercayai bulan safar sebagai bulan sial merupakan bentuk khurafat, dengan kata lain hanya cerita khayalan belaka. Kepercayaan ini bahkan dibantah langsung oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Bukhari.

Tidak ada kesialan akibat ‘adwa (wabah menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda thiyarah (menganggap sialnya sesuatu), tidak (pula) burung (sebagai tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam (kusta) sebagaimana engkau menghindar dari seekor singa.”<span class="su-quote-cite"> (HR al-Bukhari)</span>

Hadits ini menunjukkan bahwa meyakini kesialan dan nasib buruk yang berasal dari selain Allah, bukan bagian dari keimanan. Meski begitu kita tetap dianjurkan berikhtiar semaksimal mungkin untuk menghindar dari marabahaya yang dapat terjadi.

Islam datang melalui dakwah Rasulullah SAW sebagai bentuk ajaran agama yang menyempurnakan. Termasuk mengajarkan agar kita selalu percaya semua peristiwa yang datang hanya berasal dari Allah Ta’ala. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah tentang penyempuraan agama dan surat At-Taubah tentang semua ketetapan hanya dari Allah.

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS. Al-Maidah [5] : 3)

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. (QS. At-Taubah [9] : 51)

Baca Juga: Peristiwa Besar Setelah Bulan Safar, Pahami 5 Makna Maulid Nabi Muhammad SAW

Al-Qur’an sebagai Sumber Pedoman

Al-Qur'an sebagai Sumber Pedoman

Selain kedua ayat diatas, terdapat beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menguatkan jawaban dari pertanyaan apakah benar bulan safar adalah bulan sial yang penuh malapetaka. Allah telah menjelaskan secara lengkap dan tersurat dalam kitab-Nya yang digunakan sebagai pedoman manusia.

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).”(QS. Al Baqarah [1] : 156).

 وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am [6] :59).

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka, mereka akan menjawab, “Allah.” Maka, katakanlah, “Apakah kamu tidak takut (akan azab Allah)?” (QS. Yunus [10]: 31).

Baca Juga: Ketahui Sejarah Al-Quran dari Proses Turunnya hingga Pembukuan

Allah Yang Maha Menentukan

Sebagai hamba-Nya yang terus senantiasa bermunajat dan berdzikir kepada-Nya, kita memang selayaknya terus memupuk iman kita bahwa tiada Illah selain Allah SWT, Yang Maha Berkehendak lagi Maha Menentukan.

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya (kebaikan itu) kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Yunus [10] : 107).

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghabun [64]: 11)

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj [22] :70).

(23) فَقَدَرْنَاۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ (22) اِلٰى قَدَرٍ مَّعْلُوْمٍۙ

Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” (Al-Mursalat [77]: 22-23)

Baca Juga: Hikmah Turunnya Al-Qur’an yang Berangsur-angsur

Keutamaan Bulan Safar

Penjelasan secara tersurat berdasarkan Al-Qur’an sangat menjawab pertanyaan apakah benar bulan Safar sebagai bulan malapetaka. Pertanyaan selanjutnya yaitu, apa saja keutamaan bulan Safar? Secara umum, tidak ada dalil khusus yang menjelaskan keistimewaan bulan Safar. Hal ini tidak seperti keutamaan bulan-bulan haram/suci yang disebut dalam Al-Qur’an dan hadits. Namun, dari berbagai sumber menyatakan bahwa bulan safar terdapat banyak peristiwa bersejarah yang patut diteladani. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain perang Abwa, perang Khaibar, islamnya sahabat Amr bin Ash, hingga pernikahan Rasulullah & ibunda Khadijah serta putri Rasul Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. 

Selayaknya bulan-bulan islam lain, bulan Safar secara spesifik tidak mempengaruhi takdir khusus dalam kebaikan maupun keburukan. Semua hal baik dan buruk dapat terjadi kapan saja, sesuai kehendak Allah Azza Wa Jalla, Sang Pemilik Semesta Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, semestinya kita terus mengevaluasi diri dan berinvestasi amalan kebaikan dari waktu ke waktu tanpa mengkhususkan bulan-bulan tertentu. Semoga Allah tetap memberikan hidayah dan keberkahan kepada kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Previous articleMakna Kemerdekaan dalam Islam sebagai Bentuk Rasa Syukur
Next articleBulan Rabiulawal, Bulan Maulid yang Penuh Keteladanan Rasulullah SAW