Makna Kemerdekaan dalam Islam

Kemerdekaan adalah hak seluruh makhluk hidup untuk mendapat kebebasan yang bertanggung jawab baik individu maupun berkelompok. Bahkan apabila kita melihat makna kemerdekaan ini di Indonesia, telah tercantum dalam dasar hukum di Pembukaan Undang-Undang 1945 yang berbunyi “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Sementara itu, kita perlu mengetahui apa definisi kemerdekaan itu sendiri dan bagaimana memaknai kemerdekaan dalam islam? Simak ulasan lengkapnya berikut.

Definisi Merdeka

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka secara etimologi berarti bebas, sementara kemerdekaan berarti kebebasan. Dalam arti lainnya merdeka yaitu bebas dari segala penjajah maupun penjajahan, sedangkan kemerdekaan merupakan suatu keadaan yang berdiri sendiri, bebas, dan tidak terjajah.

Sedangkan kemerdekaan menurut bahasa arab disebut al-istiqlal dan hari kemerdekaan yaitu ied al-istiqlal. Kemerdekaan atau kebebasan dalam bahasa Arab ini juga dapat disebut al-hurriyah dari kata dasar al-hurr (bebas atau orang yang bebas/merdeka) dengan lawan kata al-’abd (budak). Ibnu ‘Asyur dalam “Maqasid al-Syari’ah al-islamiyah” menjelaskan al-Huriyyah ini dengan dua makna, pertama kemerdekaan merupakan lawan kata perbudakan. Kedua, makna metafora dari makna pertama, yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri tanpa ada tekanan dari manapun.

Pemaknaan kemerdekaan dalam islam atau definisi “al-hurriyyah” ini dapat dijabarkan menjadi beberapa aspek berdasarkan syariat, seperti kebebasan berkeyakinan (hurriyah al-i’tiqad), kebebasan berpendapat (hurriyah al-aqwal), kebebasan belajar dan mengajar (hurriyah al-ilmi wa ta’lim), kebebasan berkarya (hurriyah al-ta’lif), hingga kebebasan untuk bekerja (hurriyah al-a’mal). Secara makna keseharian, kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan batin, pikiran, dan gerak yang terlepas dari batasan diri sendiri maupun dari luar. Sehingga makna kebebasan ini akan menghasilkan kedamaian dari hati.

Baca Juga : 5 Tokoh Ulama Hebat dalam Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan dalam Islam yang Perlu diketahui

Kemerdekaan dalam Islam

Menurut Idris Parakkasi, dosen UIN Alauiddin Makassar, seorang manusia akan dikatakan merdeka apabila ia sadar dan berusaha keras memosisikan dirinya sebagai hamba Allah (Abdullah) dalam keseharian, baik mulai dari awal penciptaan, penghambaan, perasaan hingga perilaku. Berdasarkan makna tersebut selaiknya seorang manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi hamba bagi manusia lain, dengan kata lain sebagai budak yang merepresentasikan salah seorang menjadi yang berkuasa. Definisi inilah yang didakwahkan oleh Rasulullah dan nabi lainnya sejak dulu, Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat An-Nahl, 

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut (sembahan selain Allah)!” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl [16]: 36)

Kata tagut atau sembahan selain Allah ini tidak hanya mendefinisikan manusia sebagai sembahan (baca: perbudakan), tetapi dalam cangkupan luas dapat berupa benda maupun nafsu duniawi lainnya.

Merdeka dari Nafsu Duniawi

Sebuah kelompok atau individu tidak akan merdeka apabila mereka tunduk kepada selain Allah berupa nafsu cinta dunia. Mengapa? Nafsu cinta dunia yang berlebihan akan membawa manusia kepada perbuatan untuk melakukan segala cara, tidak peduli hal itu menyimpang hingga menyebabkan dosa dan kezaliman. Hal ini telah disinggung dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 43. Allah berfirman,

Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah engkau dapat menjadi pelindungnya? Atau, apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti hewan ternak. Bahkan, mereka lebih sesat jalannya. (QS. Al-Furqan [25]: 43-44)

Apabila kezaliman terus ini berlangsung, Allah SWT akan mencabut keberkahan dalam hidup sehingga apabila telah hilang keberkahan tersebut, niscaya penderitaan akan terus hadir hingga hambanya tersebut bertaubat.

Kezaliman yang berasal dari nafsu juga akan manusia kepada kerakusan dan kesombongan. Keduanya melahirkan kekejaman terhadap nilai-nilai  kemanusiaan. Tidak sedikit pelecehan dan pembunuhan terjadi hanya karena kerakusan terhadap harta dan kekuasaan. Sifat rakus dan berlebihan terhadap dunia akan mematikan hati sehingga lupa hakikat sebenarnya hidup sebagai bekal perjalanan menuju kehidupan akhirat yang kekal, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-A’la,

Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la [87]: 14-17)

Baca Juga : Memahami Makna dan Ciri Keberkahan Hidup

Al-Quran tentang Kemerdekaan

Al-Quran tentang Kemerdekaan

Kemerdekaan dalam Islam tidak terlepas dari Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat muslim. Kata “kemerdekaan” tidak dibahas secara tersurat dalam Al-Qur’an. Namun, beberapa kisah Nabi yang bersejarah secara tersirat menjelaskan makna kemerdekaan sebagai bentuk pembelajaran yang patut diteladani. Spirit kemerdekaan dalam Al-Qur’an sangat terlihat dari misi yang diberikan Allah SWT kepada Rasul-Nya, tercantum dalam surat Ibrahim ayat pertama.

Alif Lām Rā. (Ini adalah) Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang-benderang) dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim [14] : 1)

Dilansir dari tafsiralquran.id, ahli tafsir Muhammad Quraish Shihab menjelaskan ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari segala bentuk dan jenis kegelapan (zulumāt), dengan kata ini berbentuk jamak. Sementara kata cahaya (nūr) sendiri berbentuk tunggal, yang berarti segala macam keterjajahan secara lahir dan batin dapat dihilangkan melalui pengamalan atas nilai-nilai Al-Qur’an. Kemudian manusia akan berada dalam satu cahaya kemerdekaan. (Tafsir Al-Misbah, vo.7, hal. 7).

Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menjelaskan penggunaan kata “manusia” ini dimaknai secara umum atau menyeluruh. Dengan demikian, risalah Nabi Muhammad ini tidak hanya untuk umat muslim saja namun dapat berlaku untuk seluruh manusia. Apabila dilihat kembali, risalah tersebut memaknai kemerdekaan dalam islam, yaitu mengeluarkan manusia dari segala bentuk kegelapan hawa nafsu mereka menuju satu jalan cahaya yang lurus dan luasnya ilmu pengetahuan. (Tafsīr Asy-Sya’rawī, hal. 7425).

Makna Kemerdekaan dari Kisah Nabi Ibrahim

Kisah nabi yang memaknai arti kemerdekaan dimulai dari kisah perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhannya. Perjalanan spiritual ini merupakan upaya untuk membebaskan Nabi Ibrahim dari belenggu keyakinan yang keliru dari nenek moyangnya penyembah berhala. Allah mengabadikannya perjalanan ini dalam Surat Al-An’am.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.” Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.” Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS. Al-An’am [6] : 76-79)

Baca Juga : Kisah Bersejarah Nabi Ibrahim dalam Mencari Tuhannya dan Perintah Berkurban

Makna Kemerdekaan dari Kisah Nabi Musa dan Bani Israil

Kisah selanjutnya untuk memaknai arti kemerdekaan dalam islam bersumber dari kisah Bani Israil yang terselamatkan dari kejaran Firaun melalui perantara Nabi Musa. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 6.

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup (anak-anak) perempuanmu (untuk disiksa dan dilecehkan). Pada yang demikian itu terdapat suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu. (QS. Ibrahim [14]: 6)

Ayat ini menjelaskan bahwa Bani Israil, kaum Nabi Musa telah terselamatkan dari belenggu penjajahan yang dilakukan secara pedih oleh Firaun dan pengikutnya. Ayat ini juga sebagai muhasabah atas pertolongan Allah kepada suatu kaum. Kemudian Allah mengingatkan kembali untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diterima sehingga keberkahan akan hadir dengan kebaikan-kebaikan selanjutnya.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim [14] : 7)

Baca Juga : Kisah Bersejarah Nabi Musa dan Bani Israil Selamat dari Kejaran Firaun

Makna Kemerdekaan dari Kisah Sukses Dakwah Rasulullah SAW

Makna Kemerdekaan dari Dakwah Rasulullah

Kesuksesan Rasulullah dalam mengemban misi dakwah yang diberikan Allah SWT mengajarkan kita lebih dalam makna kemerdekaan dalam islam. Misi dakwah Rasul untuk tidak takut terhadap ajaran menyimpang dari kaum quraisy tertuang dalam Al-Qur’an pada surat Al-Maidah ayat 3.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS. Al-Maidah [5] : 3)

Dalam misi dakwahnya, Rasulullah menghadapi tantangan penjajahan dalam 3 dimensi sekaligus, yaitu disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial. Disorientasi hidup diekspresikan dalam penyembahan berhala oleh masyarakat Arab Quraisy. Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa (QS. Luqman [31]: 13, QS. Yusuf [12] : 108). Penindasan ekonomi ini dijelaskan dalam Al-Quran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar untuk kelompok-kelompok tertentu saja (QS. Al-Hasyr [59]: 7). Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang terdapat dalam Al-Quran surat Al-Humazah ayat 1-4. Harta tersebut digunakan tidak memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi, dijelaskan dalam surat Al-Ma’un ayat 1 sampai 3 tentang kaum yang mendustakan agama karena menelantarkan anak yatim dan orang miskin.

Rasulullah juga mengkampanyekan kemerdekaan sistem perbudakan, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan bangsa-bangsa. Dalam khutbah haji terakhirnya di Arafah (Haji Wada’), beliau menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara suatu golongan sehingga semuanya sama di mata Tuhannya. Tidak ada yang membedakan manusia satu dengan lainnya, kecuali tingkat ketakwaan kepada Tuhan-Nya. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13.

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (QS. Al-Hujurat [49] : 13)

Baca Juga : Peristiwa Haji Wada dan Khutbah Perpisahan Rasulullah yang Mengharukan

Rasa Syukur Atas Nikmat Kemerdekaan

Rasa Syukur Dirgahayu Republik Indonesia

Berdasarkan kisah yang terkandung dalam Al-Quran tentang makna kemerdekaan dalam islam, dapat kita simpulkan bahwa kemerdekaan sebagai nikmat yang patut disyukuri. Allah memberikan nikmat kemerdekaan dari penjajahan yang telah dirasakan bangsa Indonesia selama puluhan tahun, sebagaimana nikmat terselamatkannya bani israil dari siksaan kaum Firaun dan nikmat kesempurnaan islam dari misi dakwah Rasulullah. Oleh karena itu, sepantasnya kita dapat melakukan hal-hal yang dapat menunjukkan semangat kemerdekaan sesuai dengan kemampuan kita sebagai bentuk rasa syukur. Semangat kemerdekaan dari rasa malas untuk bermunajat kepada-Nya, kemerdekaan dari hawa nafsu cinta duniawi semata, hingga kemerdekaan agar terus berupaya menyiapkan bekal amal shalih untuk kehidupan akhirat yang lebih kekal. Semoga Allah memberkahi semangat kemerdekaan bangsa Indonesia dengan kebaikan-kebaikan yang terus kita lakukan Dirgahayu Republik Indonesia!

Ingin berpartisipasi menjadi orang tua asuh para penghafal Qur’an? Yuk berpartisipasi mewujudkan calon pemimpin bangsa yang sholeh-sholehah bersama Dompet Dhuafa.

Previous article7 Peristiwa Bersejarah di Bulan Muharram yang Perlu Diteladani Umat Islam
Next articleBulan Safar: Benarkah Sebagai Bulan Malapetaka? Adakah Keutamaan Khusus?