Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur

1880

Apa hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur? Sebagai umat muslim pasti kita bertanya-tanya kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus saja, namun secara bertahap. Tentunya Allah adalah sang pemilik rencana yang baik dan penuh kejelasan akan segala sesuatu. Dibalik rencana-Nya pasti ada hikmah didalamnya. Proses turunnya Al-Qur’an dilakukan secara bertahap atau bagian demi bagian sesuai kebutuhan kehidupan manusia dengan kurun waktu selama 23 tahun.

Sebelum menelisik lebih dalam kita perlu mengetahui dahulu 2 tahapan Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abbas yang dikutip As Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran. Tahap pertama, diturunkan sekaligus dari “Lauhil Mahfudz” ke “Baitul Izzah” di langit dunia sebagaimana susunan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Tahap kedua, diturunkan dari langit dunia kepada Rasulullah SAW, dengan cara berangsur-angsur.

Sebagaimana dalam firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al Isra ayat 106 yang artinya:

Dan Al Qur-an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian – (QS Al Isra:106)

Menurut menurut kitab at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran karya an-Nawawi menjelaskan beberapa hikmah tentang diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap. Simak yuk uraian berikut ini:

Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur

Menguatkan Hati Nabi Muhammad SAW dalam Menyampaikan Dakwah

Pada saat Nabi Muhammad dan para sahabat berdakwah era Makkiyah kerapkali mendapatkan banyak penentang, dijauhi bahkan dicemooh dan disiksa.

Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah yang artinya: Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. al-Furqan :32)

Selain itu, dukungan agar semakin kukuh dan kuat atas kedzoliman orang kafir, Allah mencoba menenangkan hati Nabi Muhammad SAW dengan turunnya Surat Al-An’am ayat 34 yang artinya:

Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (QS. Al-An’am: 34)

Menantang Orang-orang Kafir yang Mendustakan Al-Qur’an

Pada dasarnya tujuan kaum musyrik ingin sekali melemahkan Nabi Muhammad SAW dalam dorongan berdakwah, sehingga berbagai cara akan dilakukan oleh kaum Kafir. Seperti memberikan pertanyaan-pertanyaan sulit dan tidak masuk akal, seperti hari kiamat yang dilontarkan orang-orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi Muhammad SAW.

Maka turunnya wahyu yang secara berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, namun bisa juga menantang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur-an. Kemudian ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, maka hal itu sekaligus merupakan salah satu mu`jizat Al-Qur-an yang datang dari Allah Subhanahu wa ta’ala

Baca Juga: Mengenal Sejarah Al-Qur’an


Menyesuaikan dengan Peristiwa-peristiwa dalam Penetapan Hukum

Al-Qur’an diturunkan mengikuti setiap kejadian dan melakukan pentahapan dalam penetapan aqidah yang benar, hukum-hukum syari`at, dan akhlak mulia.

Misalnya, dalam menentukan ke haraman khamar, ia tidak diharamkan secara mutlak namun melalui penahapan. PertamaAlquran menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 219 menjelaskan:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. 2 : 219)

Kedua, Alquran melarang orang yang mabuk karena khamr dari salat, tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 43 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. 4 : 43)

Ketiga, baru diharamkan secara tegas dalam Surat al-Maidah Ayat 90-91 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5 : 90-91)

Baca Juga: Keutamaan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an

Memperkuat Bukti dan Keyakinan Bahwa Al-Qur’an Adalah Benar Dari Allah SWT

Walaupun Al-Qur-an turun secara berangsur-angsur dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari dan dengan banyak sekali perselisihan serta ujian dari kaum kafir atau musyrik. Akan tetapi secara keseluruhan terdapat keserasian di antara satu bagian al-Qur-an dengan bagian lainnya. Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan Allah yang Maha Bijaksana.

Mempermudah dalam Menghafal Serta Memahami Al-Qur’an 

Dengan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap, tentu hal ini akan mempermudah umat muslim dalam membaca serta menghafal tulisan. Karena tidak semua masyarakat Arab saat itu pandai membaca dan menulis, sehingga pengetahuan mereka adalah daya hafalan dan ingatan. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW memberi petunjuk kepada para sahabatnya untuk mempelajari dan menghafalkan setiap ayat-ayat Al-Qur’an yang turun agar tidak ada yang terlewatkan.

Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang biasa disebut Asbabun Nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman dan ingatan para sahabat.

Itulah sebabnya kenapa Dompet Dhuafa sebagai lembaga Filantropi gencar menciptakan generasi penerus penghafal Al-Qur’an atau Hafiz. Karena generasi yang Qurani saat ini semakin jarang ditemukan. Sudah sepatutnya sebagai umat beragama dan beriman kita turut berkontribusi, seperti membantu dalam pengadaan Al-Qur’an yang layak untuk para calon Hafiz di Indonesia, khususnya di wilayah pelosok-pelosok yang serba terbatas dan jangkauan.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Stress Menurut Islam

Sahabat, begitulah ulasan singkat tentang kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Semoga menjadi penguat iman serta akidah kita sebagai umat muslim dalam meyakini, membaca, memahami dan mentadaburi setiap ayat-ayat Al-Qur’an. Wallahu’alam bisawab

 

*Artikel ini diolah dari beberapa sumber : Islampos, Umma.id, Madaninews.id

Zakat Sekarang