Inspirasi dari Buton, Bagi Julyasman Mengabdi untuk Negeri

24

profil-SGI-Buton-SC-27

Sosok guru model sejatinya memberi sepenuh hati, mendidik dengan hati dan mengobarkan semangat inspirasi untuk negeri (Julyasman)

Ditempatkan menjadi guru model melalui program Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa selama setahun di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, membuat impiannya menginspirasi anak-anak sekolah di daerah pelosok terwujud. Bagi Julyasman (24), guru tidak hanya menjadi sosok   pengajar semata. Namun lebih dari itu, ia juga merupakan sosok   pendidik, pembelajar, panutan, dan pemimpin. Alumnus Jurusan  Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini pun bertekad untuk berkhidmat memajukan pendidikan dengan menjadi seorang guru berkarakter.

Berawal dari saya yang lulusan sarjana pendidikan setidaknya ingin berkontribusi bagi pendidikan di Indonesia. Kita tahu bahwa guru menjadi sebuah profesi yang dapat dikatakan semua orang bisa. Profesi guru dipandang sebelah mata dan masih banyak kemirisan hal seputar guru,” kata Julyasman. Ia tergerak untuk menginspirasi dan memotivasi anak-anak di daerah pelosok agar mereka memliki kesempatan sama dalam mengenyam pendidikan seperti anak-anak di kota. Semangat Julyasman tersebut  mengantarkannya mengikuti program  Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa angkatan III pada tahun 2012.  Melalui serangkaian seleksi ketat, ia pun terpilih bersama 31 peserta dari ratusan pendaftar setanah air.Selama enam bulan, Julyasman dan rekan-rekan mendapatkan pendidikan tentang keguruan di Asrama Bumi Pengembangan Insani Dompet Dhuafa, Parung, Bogor. Orientasi, pelatihan, perkuliahan, dan magang menjadi materi yang mereka dapatkan selama pembinaan tersebut.

Laboratorium Pendidikan ala Buton

Selepas pembinaan selama enam bulan, Julyasman dan peserta lainnya ditempatkan di berbagai daerah pelosok tanah air. Penempatan di daerah selama setahun merupakan tolak ukur lulusan SGI mengenai sejauh mana mereka mampu menjalankan peran dan fungsinya sebagai guru model. “Mengajar di Buton adalah sebuah laboratorium kecil untuk saya dan teman-teman dalam mengembangkan teknik  mengajar di dalam kelas dengan ilmu-ilmu yang telah didapat saat di asrama dan perkuliahan di SGI,” ujar pria yang hobi olahraga basket ini.

Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Desa Lasalimu merupakan tempat Julyasman mengabdi selama penempatan.  Minimnya pasokan listrik dan ketersediaan air bersih menjadi bumbu perjuangan Julyasman menjadi guru model di desa yang berjarak 60 KM dari Pasarwajo, ibukota Kabupaten Buton. Namun, keterbatasan itu nyatanya tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap memberikan kontribusi maksimal bagi peningkatan pendidikan di Buton. Hal tersebut justru semakin melecut dirinya memberikan inspirasi dan memotivasi para siswa dengan metode mengajar yang telah didapat dari proses pembinaan di SGI.

“Saya banyak belajar dari penempatan selama setahun di Buton itu. Keterbatasan dan kekurangan akan menjadikan kita kreatif dan peluang untuk berkarya,” ucapnya.

Kepuasaan tersendiri bagi Julyasman melihat adanya perubahan bagi para siswanya di Buton setelah adanya tim SGI Dompet Dhuafa. Mereka menjadi lebih mampu membuka diri, berani untuk mengeluarkan pendapat, dan tidak mudah berputus asa. Efek positif ditempatkannya Julyasman dan kawan-kawan SGI di Buton tidak hanya bagi para siswa, juga para guru. Sebagaian besar guru mulai tertarik dengan mulai mengikuti  metode mengajar tim guru SGI yang mengahadirkan inovasi  dalam mengajar seperti apersepsi, ice breaking, cooling down,  menyayi pembelajaran, talking stick together, dan mendongeng. (gie)

Sumber: Swara Cinta Dompet Dhuafa edisi 27