More

    Ketika “Lindu” Mengguncang Pengrajin Tahu

    pengrajin tahu

     

    Tidak ada bunyi desing mesin giling Senin pagi itu. Ember-ember yang biasanya terisi penuh kedelai hanya tertumpuk. Ruang produksi tahu itu sepi, tutup. Syafri (45), sang pemilik usaha mengaku tidak berproduksi.

    Awal September lalu Bendahara Koperasi Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Mitra Bersama dampingan Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa ini mengaku ikut serta melakukan aksi mogok produksi selama enam hari. Pemogokan dilakukan sebagai bentuk protes meroketnya harga kedelai di pasaran. Harga kedelai yang semula Rp 7.000 per kilogram, melonjak menjadi Rp 9.300 hingga Rp 9.500.

    Kenaikan harga kedelai melahirkan persoalan bagi para pengrajin tahu seperti Syafri. Imbasnya, mereka menaikkan harga jual seraya memperkecil ukuran tahu. Hal tersebut terpaksa dijalani demi keberlangsungan usahanya yang berbasis rumah tangga. “Saya naikin harga jualnya sebesar Rp 500. Ukuran tahu dikecilin. Kalau gak gitu mana bisa nutup modal dan ongkos produksi,” ungkap Syafri.

    Tidak hanya Syafri, solusi memperkecil ukuran tahu juga dilakukan Rahmat (43), perajin tahu lainnya di Kampung Iwul. Alih-alih stabil, Rahmat mengaku omzet usahanya menurun. Dengan produksi 50 kilogram per hari, biasanya ia memperoleh omzet Rp 100 ribu. Kini, dengan jumlah produksi yang sama Rahmat hanya memperoleh Rp 30 ribu.

    Penurunan drastis omzet usaha kian memusingkan Rahmat. Demi penghidupan keluarga, Rahmat berpikir keras, terlebih harga-harga lainnya juga sudah naik sejak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. “Anak saya yang lagi sekolah juga butuh biaya gak sedikit. Buku pelajaran kan beli,” ujarnya.

    Syafri dan Rahmat adalah potret pelaku usaha mikro yang rentan terpuruk bila “lindu” ekonomi mengguncang seperti saat kenaikan harga kedelai ini. Mereka menjalani usaha dengan terseok-seok. Mereka adalah potret pengrajin tahu yang “dipaksa” gulung lantaran tidak sanggup lagi membeli kedelai. (gie)