Malulah Pada Perempuan Tangguh Kita

57

Bu-Nana

 

Oleh: Nana Mintarti, Direktur Komunikasi dan Hubungan Eksternal Dompet Dhuafa

Di mana kekuatan  makhluk yang dipersepsi lemah ini? Di kelemahannya itu!  Karena perempuan tak bisa melihat anaknya susah, ia bangkit melupakan sisi lemahnya.  Budaya patriarki, umumnya etnis Indonesia seperti ini,  menempatkan perempuan warga kelas dua.  Sementara perempuan sendiri tak pernah risau dengan posisi. Sikap itulah posisi terhebatnya. Tak peduli ia di posisi mana, ketika problem keluarga – terutama ekonomi, melanda, ia cancut taliwondo, berjibaku berbuat menyelamatkannya. Hasilnya:  perempuan bekerja, bahkan di tengah keterbatasannya, perempuan menjangkau mancanegara sebagai buruh migran.  Wajah bangsa digurat dengan stigma negeri TKW, pengirim bedinde, pembantu rumahtangga.

Karena perempuan kita tak pedulian, asal keluarganya selamat, ia lakoni pekerjaan rendah.   Dan kaum Adam negeri ini – yang punya kuasa dan mewarnai perwakilan rakyat – merasa tak mengapa dengan statistik buruh migran dunia diwarnai perempuan Indonesia. Kebas batinnya diterpa kasus-kasus pelecehan anak bangsa berjenis perempuan ini.  Bahkan yang berakhir dengan kematian: dipancung, atau karena kekerasan majikannya.   Per-TKW-an masih akan menjadi komoditi panjang sekian tahun mendatang, malah dikapitalisasi lebih sistemik.

Kami hirau dan menangkap fenomena itu. Program pemberdayaan perempuan, dimainkan di aras domestik dan mancanegara. Di dalam negeri, Dompet Dhuafa (DD) meluncurkan beragam program yang tidak spesifik menyasar  kaum perempuan, namun faktanya, pendukung terbesar dengan tingkat keberhasilan terbaik, ternyata dimainkan kaum perempuan. Program Masyarakat Mandiri di wilayah rural maupun urban  di mana kami terjunkan pendamping pemberdaya untuk masa minimal satu tahun, diwarnai kisah sukses kaum Hawa, meski sejumlah lelaki juga tak sedikit yang berhasil mencapai kemandirian intelektual (terbangunnya kesadaran, etos), material (ekonomi), dan kelembagaan sosial (guyub, saling topang sebagai satu kesatuan komunitas, menguatnya modal sosial komunitas).

Lesson learned dari praktik pendampingan sejak tahun 2000 hingga saat ini, melahirkan varian program yang kaya, dimana analisa kerangka kerja logis memberi sumbangsih bagi praktik pemberdayaan selanjutnya.  Perempuan Indonesia, di titik-titik kemiskinan yang kami sapa, menunjukkan ketangguhannya.  Rasa kasih sayang kepada keluarga merekalah, jawabannya.  Kemiskinan menunjukkan, berapa banyak kaum lelaki berputus asa, hilang pegangan, gagal mengurus keluarga. Kemiskinan sekaligus menunjukkan, perempuan-perempuan tangguh ini, bangkit menyelamatkan keluarga, bahkan yang sampai mempertaruhkan nyawa dan kehormatan!

Di mancanegara, DD konsisten melakukan pendampingan dan membuka cabang di titik-titik tempat dengan jumlah buruh migran yang signifikan. Sayang, tidak  di semua titik tempat yang rawan masalah ketenagakerjaannya, DD mendapat izin.  Timur Tengah, belum bisa kami tembus.  Biarlah, Allah menjadi sahabat pekerja migran kita di negeri-negeri tempat turunnya para Nabi itu.  Di Hongkong, sebagai contoh fenomenal pendampingan DD dengan buruh migran Indonesia, didominasi pekerja perempuan. Menemani mereka, ternyata “memaksa” mengelola dua ranah: di mancanegara saat mereka masih terikat kontrak, dan di Tanah Air untuk mengamankan remittance mereka agar tidak tersia-sia, dan meneruskan hidup terhormat setelah kontrak berakhir.

Melihat kerja keras perempuan tangguh Indonesia ini, kita layak malu. Malu mereka gigih melawan bahaya yang tak pernah mereka bayangkan seperti apa karena sebagian besar dari mereka pertama kali ke negeri asing. Malu pada kegagalan kita membangun sistem yang memberdayakan perempuan untuk tidak terpaksa memilih jadi buruh di negara orang!  Ketika rasa malu itu hilang, itulah dasar dosa sosial. Korupsi nurani akar semua korupsi yang besar-besar, bahkan korupsi sistemik itu sendiri.