Semangat Membara Peternak Muda

12

 

 

Usianya masih terbilang belia, tapi semangatnya untuk membantu Perekonomian keluarga patut diacungi jempol. Itulah Dika Kurniawan (23), salah satu peternak mitra Kampoeng Ternak Nusantara (KTN) di klaster Zona Madina, ParungBogor, Jawa Barat. Ketika hari masih gelap, selepas shalat subuh, ia langsung beranjak menuju pekarangan rumah dan mengeluarkan beberapa ekor domba dan kambing yang selama ini ia rawat. Tujuannya adalah pasar di bilangan Parung, Bogor, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumahnya. Hujan rintik yang turun pagi itu ditambah dinginnya udara pagi tak menyurutkan semangatnya. Di pasar itulah ia menawarkan lima ekor kambing Jawa Randu dan enam ekor domba ekor tipis yang dibawanya hingga pukul 11 siang. “Ya namanya juga jualan, kadang laku semua, bahkan harus ambil lagi di rumah. Kadang juga sepi pembeli,” ungkap Dika.

Hampir tiga tahun sudah Dika yang hanya sempat duduk di bangku sekolah hingga kelas 2 SMP ini menjadi peternak mitra KTN. Dulu ketika pertama kali ia mendapat bantuan domba dan kambing sebanyak 10 ekor, kini di kandangnya terdapat 50 ekor kambing yang siap dijual ke pasar. Ia pun kerap kali diandalkan rekan satu kelompoknya untuk memasarkan domba-kambing mereka karena kepiawaian Dika dalam memasarkan ternaknya. Bahkan, meski usinya paling muda diantara Kelompok Peternak Karya Makmur, ia ditunjuk sebagai ketua kelompok. Prestasi Dika dalam bidang peternakan bisa dibilang paling bagus di antara yang lainnya. Ia begitu antusias menyerap ilmu tentang peternakan yang diberikan oleh pendamping KTN selama ini. Dika selalu menjadi andalan manakala ada hewan ternak milik warga yang sakit dan butuh pengobatan. “Merekaminta saya menyuntik kambingnya, Alhamdulillah saya dapat ilmunya di sini (KTN),” tambah Dika. Bersentuhan dengan dunia ternak, terutama domba dan kambing bukanlah hal baru bagi Dika. Sejak kecil ia memang suka merawat domba dan kambing milik keluarganya. Namun keseriusannya baru datang ketika ayahnya dipanggil Yang Maha Kuasa ketia ia masih kelas 6 SD. Meski ia memiliki tiga kakak yang menyanggupi untuk membiayainya sekolah, ia bergeming, tidak ingin sekolah. “Saya tidak ingin membebani abang saya, dia juga kan punya keluarga,” katanya. Dika pun memilih melanjutkan usahanya daripada sekolah, jual-beli domba dan kambing. Dika mengakui, banyak hal yang bisa ia dapatkan setelah bergabung dengan Kampoeng Ternak. Ia yang dulunya hanya mengerti jual beli domba-kambing, kini mengerti bagaimana memanej kandang, pakan ternak dan kesehatan ternak. Sehingga domba-kambing yang dirawatnya memiliki kualitas yang bagus. Itulah yang kemudian membuat pelanggannya terus bertambah. “Dulu saya enggak tahu dan tidak berani menyuntik ternak, sekarang bisa,” ujarnya antusias. Bagi Dika, usaha ternak domba dan kambing merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan.Apalagi saat menjelang Idul Adha ia sangat bersemangat. “Banyak permintaan hewan kurban,” ucapnya. Dika mengatakan, keuntungan yang diperoleh saat Idul Adha berlipat-lipat. Dika mampu menjual domba dan kambing hingga 100 ekor. Dika juga mengakui, kini kondisi ekonominya lebih membaik. Ia dapat membantu ibunya yang sudah renta dan adiknya yang masih bersekolah tanpa mengandalkan bantuan saudara-saudaranya tuanya. Walau bermodal kecil, Dika berharap bisa terus mengembangkan peternakan menjadi lebih besar. “Saya yakin itu bisa dengan ilmu dan pengalaman, saya ingin menjadi peternak sukses,” tegasnya.

Sumber artikel majalah Swara Cinta edisi 30

 

Zakat Sekarang