15 July 2019

Haji dan Qurban dengan ‘ADHA’

Haji dan qurban

Senyum Jamaah Haji di Madinah via tribunnews.com

Ibadah haji dan qurban merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di bulan Dzulhijah. Haji dalam arti berkunjung, karena dalam ibadah ini umat muslim mengunjungi dua masjid yang sangat istimewa. Masjid al-Haram di Makkah tempat beradanya ka’bah dan Masjid an-Nabawiy di Madinah. Qurban dalam bahasa Arab adalah ‘dekat’ dapat disebut juga binatang sembelihan, sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada tanggal 10 Dzulhijjah umat muslim merayakan hari raya Idul Adha. Kegiatan berqurban dengan menyembelih hewan qurban yang dibagi-bagikan kepada umat islam disuatu tempat sangat disunnatkan bagi umat islam. Bagi yang tidak dapat menunaikan Ibadah Haji dapat melakukan Qurban didaerahnya. Namun bagi jamaah haji diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji dengan maksimal serta menyempurnakan lima rukun haji.

Baca Juga: Apa itu Qurban (Kurban) dalam Islam?

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang penuh keagungan. Setiap akhir sholat, selalu terlantun Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam tasyahud akhir, bulan ini terdapat dua ibadah yang sungguh istimewa. Maka sebagai muslim kita harus memanfaatkan momen ibadah haji dan qurban dengan sebaik-baiknya. Berikut tips menjadi muslim produktif di ibadah haji dan qurban dengan ‘ADHA’.

A : Aksi Kebaikan, bermanfaat bagi masyarakat (Habluminannas)

Untuk menjadi muslim yang produktif alangkah baiknya dapat melakukan aksi kebaikan bagi masyarakat sekitar. Dengan bersedekah dan berilmu maka dapat kita tebarkan sehingga bermanfaat bagi masyarakat.

Pada ibadah haji dan qurban umat islam diperintahkan untuk belajar bersedekah harta, maka materi yang dikeluarkan cukup banyak. Jadilah manusia yang pandai bersedekah dan tidak sungkan untuk berbagi. Semakin banyak harta dikeluarkan untuk bersedekah, maka akan semakin banyak manfaat dan keberkahan yang dirasakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Artinya: “Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029)

Allah Ta’ala berfirman pada Al-Qur’an ,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Pada ibadah haji dan qurban umat islam diperintahkan untuk berilmu. Ilmu yang dimaksud yakni memahami perintah Allah SWT dan mengikuti tuntunan Nabi SAW. Jika ilmu tersebut tidak kita tekuni maka akan menjadi mudhorot bagi diri sendiri serta masyarakat sekitar.

Dalam berqurban terdapat berbagai persyaratan yang harus dipenuhi. Tidak cacat, usia untuk kambing minimal 1 tahun dan sapi 2 tahun, penyembelihan setelah sholat Idul Adha, dan lainnya. Begitu pula pada ibadah haji, jamaah wajib melakukan lima rukun haji (ihram, wukuf, thawaf, sa’i, dan tahallul). Jika tidak didasari dengan ilmu yang baik maka ibadah tidak akan sempurna.

Menurut Hadits Riwayat Ibnu Abdil Barr,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Artinya: ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkata,

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Artinya: “Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 282)

D : Damai dengan mengikhlaskan hati.

Untuk tercapainya Ridho Allah SWT umat muslim dalam melaksanakan ibadah haji dan qurban harus dilandasi dengan keikhlasan serta ketakwaan. Qurban dan haji bukan ajang untuk menunjukkan eksistensi diri dan mengharapkan pujian atau sanjungan. Jika mengharapkan hal tersebut maka hilanglah keberkahan dari ibadahnya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37).

H : Happy yaitu senang dan semangat dalam memasuki bulan Dzulhijah yang penuh dengan keagungan.

Sebagai umat muslim kita harus bersyukur jika Allah masih memberikan kesempatan kepada kita melaksanakan ibadah haji dan qurban. Selagi masih diberikan nikmat sehat, manfaatkanlah momen tersebut dengan sebaik-baiknya. Bersyukur diiringi dengan iman dan takwa akan menjadikan diri ini produktif dan maksimal dalam beribadah.

Baca Juga: 5 Rukun Haji dengan metode SWIIT

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Quraisy Ayat 3–4

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

Artinya: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah)”. (3)

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Artinya: “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (4)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S Al-Baqarah: 152)

A : Aktif Positif, mendekatkan diri dengan Allah SWT (HabluminAllah)

Agar tercapai ibadah yang baik, maka kita harus mengisi iman kita dengan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara rajin berzikir, mentaati segala peraturan dengan menjauhi larangannya dan melaksanakan kewajiban serta sunnah-sunnahnya.

Berdzikir pada ibadah haji dan qurban merupakan kegiatan memuja Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW untuk mencapai Ridho dan keberkahan dari-Nya. Zikir mengandung banyak manfaat bagi umat islam. Berikut perintah berdzikir pada ibadah qurban dan haji.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ  إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Artinya: “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al Baqarah: 203).

Melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangannya harus diimpelementasikan pada ibadah haji dan qurban. Dengan mematuhi perintah-Nya kelak keberkahan akan mengiringi langkah kita selalu. Berikut salah satu perintah dalam mematuhi aturan-aturan Allah SWT.

Dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Artinya: “Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzulhijjah (maksudnya telah memasuki 1 Dzulhijjah, -pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no. 1977).

Adapun dalam ibadah haji juga terdapat aturan yang wajib dilaksanakan sebagai berikut.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ada seseorang yang berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنَ الثِّيَابِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ يَلْبَسُ الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ الْخِفَافَ ، إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ ، وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ ، وَلاَ تَلْبَسُوا مِنَ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ أَوْ وَرْسٌ

Artinya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pakaian yang seharusnya dikenakan oleh orang yang sedang berihram (haji atau umrah, -pen)?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh mengenakan kemeja, sorban, celana panjang kopiah dan sepatu, kecuali bagi yang tidak mendapatkan sandal, maka dia boleh mengenakan sepatu. Hendaknya dia potong sepatunya tersebut hingga di bawah kedua mata kakinya. Hendaknya dia tidak memakai pakaian yang diberi za’faran dan wars (sejenis wewangian, -pen).” (HR. Bukhari no. 1542)

Ketika bulan Dzulhijah telah tiba jadikanlah diri sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi lebih baik. Menjadi muslimah yang seimbang menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dan bermanfaat bagi Masyarakat kelak kehidupanmu akan diselimuti keberkahan. Manfaatkanlah dan beribadahlah sebaik-baiknya seakan-akan kau tidak akan bertemu kembali dengan bulan Dzulhijah yang penuh dengan keagungan.

Jadilah muslim yang produktif dalam ibadah haji dan qurban dengan singakatan ‘ADHA’:

Aksi Positif (Habluminannas),

Damai Ikhlaskan Hati,

Happy bersyukur,

Aktif Positif (HabluminAllah).

Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan keberkahan dalam mengukir bulan penuh keagungan. Selalu tebarkan kebaikan dan manfaat kepada sesama. (Glenzi Fizulmi)

Zakat Sekarang
Bagikan :

Konsultasi ZISWAF

Foto Ustadz Zul Ashfi DD

Pertanyaan:  Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh Saya ingin bertanya tentang zakat harta warisan. Saya seorang ibu dari 3 anak (2 anak laki-laki dan 1…

Download PDF Panduan Zakat

Download Panduan Zakat

Informasi lengkap dan praktis untuk mempelajari zakat secara komprehensif.

Download Panduan Zakat di sini !
Kalkulator zakat

Kalkulator Zakat

Program yang akan membantu menentukan jumlah besaran Zakat yang akan Anda tunaikan.

Hitung Zakat Anda di sini !