Pentingnya Mengenal Sejarah Islam Indonesia

86
Sejarah Islam Indonesia
Sejarah Islam Indonesia
Ilustrasi Masuknya Islam ke Indonesia, sumber: sejarahri.com

Sejarah memiliki kegunaan yang sangat penting, karena sejarah menjelaskan asal-usul terjadinya suatu peristiwa. Tentunya, setiap kejadian sosial-politik tidak ada yang berdiri sendiri, melainkan selalu terikat dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dan kawasan lainnya. Oleh karena itu, menurut Azyumardi Azra, pakar sejarah Islam Indonesia dalam  Historiografi Islam Kontemporer menyebutkan bahwa sejarah tidak mungkin terbangun dalam situasi yang vakum dan isolatif. Sudut pandang global seperti inilah yang harus dibangun dalam melihat sejarah, termasuk sejarah islam Indonesia.

Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia, selalu diwarnai wacana  beragam yang membentuk pola pikir muslim Indonesia sekarang. Mulai dari konsep  wasathiyyah hingga Resolusi jihad, pembentukan karakter masyarakat muslim Indonesia semuanya  itu bersinggungan dengan akar sejarah.

Untuk mengetahui karakteristik islam di Indonesia secara menyeluruh, perlu terlebih dahulu memahami ragam teori sejarah masuknya Islam Indonesia. Apakah Islam masuk di Indonesia dengan peperangan, atau perdamaian. Bagaiamanakah sejarah masuknya Islam di Indonesia? Berikut penjelasan dengan tiga ragam teori yang paling masyhur (diolah dari  berbagai sumber);

Teori Gujarat-India (Abad 13 M)

Teori ini dicetuskan oleh G.W.J Drewes yang kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje. Ia menyebutkan bahwa Islam masuk ke Nusantara karena terjadi relasi niaga antara masyarakat lokal dengan pedagang Gujarat India Selatan.  Selain itu, ditemukan batu nisan Sultan Malik As-Saleh yang bercorak khas Gujarat. Sayangnya, teori ini dianggap memiliki banyak kelemahan.  Karena Gujarat pada abad ke-12 hingga 13 M masih termasuk wilayah Hindu. Serta, madzhab Islam Gujarat termasuk Hanafi, bukan Syafii layaknya Indonesia.

Sejarah Islam Indonesia
Makam Malik As-Saleh, sumber: Tribunnews.com

Teori Timur Tengah (Abad 7 M)

Dalam sejarah Islam Indonesia, abad ke-7 merupakan pendapat yang banyak diyakini masuknya ajaran Islam.  Teori ini diperkirakan  datang dari Timur Tengah. Sedangkan Tokoh yang menguatkannya adalah T.W.Arnold, seorang orientalis dari Inggris yang menuliskan The Preaching of Islam.  Dalam karyanya, bersumber dari naskah kuno Cina, Ia menyebutkan ada seorang pembesar Arab yang menjadi kepala daerah pendudukan bangsa Arab di Pantai Barat Sumatera pada 674 M.

Selain itu, Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam mendukung teori ini, dengan bukti sumber yang sama dari Cina menyebutkan, sekelompok bangsa Arab telah bermukim di kawasan Pantai Barat Sumatera (tepatnya di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara) pada 625 M. Di Barus juga ditemukan nisan kuno bertuliskan nama Syekh Rukunuddin yang wafat tahun 672 M.

Teori ini banyak didukung para ahli lain, seperti J.C.Van Leur dan Anthony H. Johns. Teori ini juga merupakan sanggahan atas teori Gujarat-India.

Teori Persia (Abad 13 M)

Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat mengembangkan teori ini. Mereka berpendapat bahwa tradisi dan kebudayaan Islam di Indonesia, hampir sama dengan Persia. Contohnya seperti corak kaligrafi yang ada di batu-batu nisan Islam dan tradisi peringatan 10 Muharram. Hal ini yang menguatkan sejarah Islam Indonesia berasal dari Persia. (Tirto.id, Perdebatan dan Versi Masuknya Islam ke Nusantara).

Banyak teori yang menjelaskan sejarah masuknya Islam di Indonesia, selain  teori Gujarat, Timur Tengah dan Persia. Yaitu teori Cina, Mesir, Azerbaijan, Turki hingga teori maritim juga disebutkan dalam berbagai buku dan bahan diskusi. Namun teori tersebut masih dalam lingkup kecil. Ragam sejarah masuknya Islam ini kemudian semakin berkembang dan membentuk wajah  Islam di Indonesia.  Maka, tak heran jika kita  sering mendengar istilah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Islam yang lembut dan mengasihi. Karena sejarah islam Indonesia bukan karena peperangan, melainkan perdamaian. (Zainal Abidin)

Zakat Sekarang