Usia Tak Menyurutkan Usaha Legiyem

19

LEGIYEM

Tubuh yang kian renta, tak menyurutkan Legiyem (75) untuk terus semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Untuk menopang kehidupannya, seorang nenek asal Magelang, Jawa Tengah yang sudah 15 tahun tinggal di daerah Tangerang Selatan ini masih beraktivitas dengan membuka warung kecil di depan SMK Muhammadiyah Setu, Pamulang, Tangerang Selatan.

Di usianya kini tentu bukanlah saat-saat produktif lagi baginya, justru saat ini adalah waktu untuk menikmati hari tuanya bersama dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Namun hal ini sepertinya jauh dari bayang hidup Mbah Jemah, begitu ia akrab disapa. Keinginannya untuk hidup mandiri dan tidak mau merepotkan anak-anaknya membuat ia kini tinggal dan berjualan di gubuk kecil berukuran 2×2 di lahan milik ITI (Institut Teknologi Indonesia) Serpong.

“Saya mau hidup mandiri. Dari dulu saya sudah numpang sama anak-anak saya. Warung  depan SMK Muhammadiyah di Setu juga punya anak saya. Kasian beban hidup mereka sudah banyak, jadi saya mau mandiri,” jelas nenek 7orang cucu ini.

Saat Mbah Jemah memutuskan untuk hidup mandiri, ketiga anaknya sangat mengkhawatirkan keputusan yang telah ia ambil. Namun, tak ingin menambah beban hidup ketiga anaknya yang sangat disayangi, hal itulah yang membuatnya tetap ingin hidup mandiri.

Kini dua bulan sudah, Mbah Jemah menikmati gubuk kecil dan tempat berjualannya yang baru. Januari lalu, ia mendapatkan musibah. Pohon besar yang hidup berdampingan dengan gubuknya merubuhi tempat usahanya itu saat ditebang. Gubuknya rusak parah dan seluruh dagangannya hancur berantakan. Seketika itu juga, ia sempat jatuh sakit.

“Gubuk warung saya rubuh, saya ndak tau harus bagaimana lagi. Sedih betul rasanya ingat kejadian itu. Sampai saya jatuh sakit,” kenangnya.

Beruntung pihak penebang mau bertanggungjawab atas kerusakan gubuknya. Namun kini Mbah Jemah harus memulainya lagi dari awal dengan modal yang seadanya. Seorang tetangga Mbah Jemah iba melihat kondisi yang dialaminya. Sang tetangga pun memberitahukan informasi tentang Social Trust Fund (STF) Dompet Dhuafa. Berkat informasi dari tetangganya itu, akhirnya Mbah Jemah mendaftar dan meminjam dana modal Rp. 1 Juta.

“Alhamdulillah, saya sudah dibantu STF Dompet Dhuafa untuk meminjam dana usaha warung saya kembali. Saya sangat senang bisa dibantu,” ungkapnya.

Dengan bantuan dana dari STF Tangsel, kini Mbah Jemah dapat terus melanjutkan usahanya dengan terus berjualan berjualan di gubuk kecil berukuran 2×2 di lahan milik Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong. (uyang/gie)

Sumber: dompetdhuafa.org

Zakat Sekarang