Arti Puasa Kafarat Untuk Denda Jimak dan Cara Membayarnya

31223

Arti puasa kafarat, niat, dan cara membayar denda dengan beras

Umat Islam wajib menahan diri dari segala tindakan dan godaan yang dapat membatalkan puasa Ramadhan. Kali ini terdapat sebuah kasus yang berlatar belakang batalnya puasa hingga harus membayar kafarat puasa atau memberi makan kepada 60 orang miskin. Simak penjelasan komprehensif berikut!

Pertanyaan: 

Bagaimana tata cara membayar kafarat batalnya puasa ramadhan karena bersetubuh dengan istri? Bisakah saya membayar melalui Dompet Dhuafa ?

Jawaban Apa Itu Kafarat? 

Secara bahasa, kaffârah (Arab) — sebagian kita mengenalnya dengan istilah kifârah atau kifarat / kafarat — berasal dari kata kafran yang berarti ‘menutupi’. Maksud ‘menutupi’ di sana adalah menutupi dosa. Secara harfiah, menutupi dalam kafarat yakni menutupi dosa. Dengan demikian, kafarat adalah tindakan yang dapat menutupi dan meleburkan dosa supaya hukuman di dunia dan akhirat tidak berat. 

Cara kerja kafarat seperti denda. Bukan sekadar menjalani hukuman agar kelar, tetapi kafarat juga waktu untuk refleksi diri agar manusia serius bertaubat dari dosa yang telah diperbuat. Dalam buku Fikih Jinayat (Hukum Pidana Islam) karya Ali Geno Berutu, ada 6 macam kafarat dalam Islam, yaitu: 

  1. Pembunuhan
  2. Zihar, yaitu ucapan menyamakan punggung ibu dengan punggung istri. Kelihatannya sepele, akan tetapi Islam melarang suami mengucapkan kalimat sejenis tersebut karena ia menyamakan istri dengan ibu kandung sang suami. Ungkapan tersebut terdengar seperti menggauli ibu sendiri dan itu termasuk tindakan haram. 
  3. Jimak di bulan Ramadhan, yaitu berhubungan biologis.
  4. Melanggar sumpah atas nama Allah
  5. Ila’, yaitu sumpah suami untuk tidak menafkahi istri secara batin dalam waktu tertentu. 
  6. Membunuh binatang buruan saat ihram.

Diketahui bahwa orang yang sengaja merusak puasanya di bulan Ramadhan dengan senggama atau hubungan seksual, wajib menjalankan kifarah ‘udhma (kafarat besar).

baca juga: TIDAK MENGQADHA PUASA DUA TAHUN LALU

Kafarat hubungan badan siang hari sama seperti kafarat zhihar, yakni memerdekakan hamba sahaya perempuan yang beriman, berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau jika tidak mampu memberi makanan kepada 60 orang miskin, masing-masing sebanyak satu mud (1 kg kurang).

Kifarat di atas berdasarkan hadis Abu Hurairah:

Disebutkannya, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW. lantas berkata,

“Celakalah aku! Aku mencampuri istriku (siang hari) di bulan Ramadhan.”

Rasul SAW bersabda,

“Merdekakanlah seorang hamba sahaya perempuan.”

Dijawab oleh laki-laki itu,

“Aku tidak mampu.”

Beliau kembali bersabda,

“Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut.”

Dijawab lagi oleh laki-laki itu,

“Aku tak mampu.”

Beliau kembali bersabda,

“Berikanlah makanan kepada enam puluh orang miskin.”

(HR. Al-Bukhari)

Hadits ini menjelaskan kalau islam adalah agama yang memudahkan umatnya. Jika tidak bisa memerdekakan hamba sahaya, maka berpuasalah 2 bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka ada opsi ketiga yaitu memberi makan 60 orang fakir miskin, seperti dikutip dari video di bawah ini.

Yuk tonton, biar semakin mawas diri kalau membatalkan puasa secara sengaja adalah perkara yang bukan sepele!

Bagaimana Hitungan Pembayaran Kafarat-Jimak?

arti kafarat puasa dan cara membayar kafarat jimak

Pada dasarnya kafarat jimak saat berpuasa di bulan Ramadhan berdasarkan ketentuan yang disampaikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah satu sahabatnya yang berjimak di siang hari bulan ramadhan, antara lain adalah:

1. Kafarat dalam bentuk berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa putus. Namun bila tidak mampu, maka membayarnya dengan menyajikan hidangan kepada orang miskin.

2. Membayar kafarat dengan memberi makan 60 orang miskin, utamanya yang ada di lingkungan kita. Apabila tidak mampu, dalam arti tidak mampu mendata dan mencari 60 orang tersebut, maka dapat diwakilkan kepada pihak kedua yang mampu mencarikan. Dalam hal ini, lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa dapat diamanahi untuk melakukannya karena memiliki data orang-orang yang berhak menerima bantuan.

Sedangkan untuk kadar kafarat memberi makan ini untuk masing-masing orang adalah sebanyak 1 Mud makanan pokok, seperti beras. 1 Mud adalah sekitar 750 Gram. Dengan demikian, beras yang digunakan adalah sebanyak 45 kilogram. Ini berdasarkan hitungan dalam mazhab syafi’i yang mengharuskan dengan makanan pokok.

Sedangkan, bila pembayaran dengan makanan pokok ini sulit atau sangat merepotkan, maka dalam mazhab hanafi dibolehkan membayar kafarat dengan nilai uang, dan tentunya juga mengikut kepada kadar kafarat dalam mazhab ini, yaitu 1 Shaa’ atau 3,25 – 3,8 Kg untuk satu orang penerima, dengan total 195 kg.

Bila harga beras rata-rata Rp 10.000,- / kg, maka 3,25 kg = 32.500 / orang. Maka totalnya adalah 60 x 32.500 = Rp 1.950.000,-. Meskipun dalam mazhab hanafi dibolehkan membayar dengan nilai uang, namun lebih utama menggunakan pandangan mayoritas ulama, yaitu dengan makanan pokok, dan sejatinya bisa diberikan langsung oleh pembayar kafarat, jika tidak ada kesulitan.

Siapa yang Harus Membayar Denda Kafarat-Jimak?

Yang dikenai kafarat hanyalah suami, sedangkan istri diusahakan qodho. Jika istri berada dalam kondisi terpaksa saat melakukan jimak, seperti adanya ancaman disiksa atau dipukul, maka istri tidak turut dalam membayar kafarat sama sekali, baik membantu untuk menebus lewat makanan atau puasa selama dua bulan berturut-turut (60 hari)

Meskipun demikian, ada pula pendapat ulama Malikiah dan Hanafiah yang memaparkan kalau suami istri wajib menanggung kafarat jika keduanya melakukan perbuatan tersebut secara sukarela atau tanpa paksaan. 

Di sisi lain, saat suami telah tiada dan tidak sempat melunasi kafarat, maka istri pun tidak memiliki kewajiban sama sekali untuk melakukan kafarat. Bila sanggup, istri dapat berusaha untuk mengqadha puasa sebagai bentuk taubat untuk tidak mengulanginya lagi.

baca juga: HUKUM BERZINA PADA SIANG HARI DI BULAN RAMADHAN 

Hal yang lebih penting juga adalah bertaubat dan berjanji kepada Allah untuk tidak mengulangi lagi perbuatan membatalkan puasa seperti ini pada bulan ramadan jauh lebih penting.

Niat Puasa Kafarat 

Secara tata cara, puasa kafarat sama seperti pada puasa yang lain. Perbedaan terletak di waktu pelaksanaan yaitu 2 bulan berturut-turut (60 hari) dan niatnya. 

نوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِكَفَارَةِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Bacaan latin: Nawaitu sauma gadin likaffarin lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan kafarat (dalam hati menyebutkan puasa kafaratnya) fardhu karena Allah Ta’ala”

Tanya Ustadz layanan Dompet Dhuafa

Itulah pembahasan mengenai kafarat puasa. Jaga puasamu dari segala macam godaan, tingkatkan amal ibadah di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagi infak, sedekah, dan wakaf.

Ingat kafaratmu, jangan lupa bayar utang puasamu! Kafarat di Dompet Dhuafa biikin tenang karena makanan yang diberikan kepada fakir miskin terjamin kualitas gizinya. Stop menunda, klik bayar kafarat sekarang juga di tautan ini! (SH)

 

 

Zakat Sekarang