23 July 2019

Puasa-puasa Sunnah Sebelum Idul Adha

Puasa Idul Adha

Puasa menjelang hari raya Idul Adha merupakan suatu yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw. Puasa ini merupakan cara untuk mendapatkan keberkahan bulan Dzulhijjah. Apalagi bulan ini termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam bulan ini terdapat ibadah penyempurna dari rukun Islam, yaitu ibadah haji ke baitullah. Sementara bagi orang yang tidak melakukan ibadah haji, dianjurkan untuk mengamalkan amalan sunnah lainnya, seperti menyembelih kurban, sedekah sebanyak-banyaknya, shalat dan berpuasa.

Anjuran untuk memperbanyak amal tercatat dalam beberapa hadits Nabi. Misalnya hadits riwayat Ibnu Abbas dalam Sunan At-Tirmidzi sebagai berikut;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

Artinya : “Rasulullah SAW berkata: Tak ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR. At-Tirmidzi)

Baca Juga: Hukum Kurban Online dalam Hadist dan Al Quran

Para ulama menggunakan hadits ini sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah. Hal ini tampak dalam judul bab dalam kitab Ibnu Majah yang memberi judul Shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari). Selain itu, Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitabnya Fathul Baari  mengatakan:

واستدل به على فضل صيام عشر ذي الحجة لاندراج الصوم في العمل

Artinya: “Hadits ini menjadi dalil atas keutamaan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amalan saleh.”

Puasa Tujuh Hari di Awal Dzulhijjah

Sesungguhnya ada tiga hari teristimewa di bulan Dzulhijjah, yaiti tanggal 8 Dzulhijjah yang disebut yaumu tarwiyah, tanggal 9 Dzulhijjah yang disebut yaumul ‘arafah dan tanggal 10 yang disebut yaumun nahr. Namun, seperti hadis sebelumnya, bahwa keistimewaan Dzulhijjah juga terdapat di tujuh hari di awal Dzulhijjah.

Keistimewaan ini menjadikan tujuh hari sebagai hari yang dianjurkan untuk puasa. Selain itu, secara historis hari-hari menjelang Idul Adha merupakan hari yang memang istimewa. Ibnu Abbas mencatat bahwa rentangan sepuluh hari awal Idul Adha terjadi berbagai peristiwa besar yang berkaitan dengan perubahan kehidupan manusia berikutnya.

Hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari dimaafkannya Nabi Adam oleh Allah Swt, setelah melakukan kesalahan dengan makan buah khuldi. Hari kedua Dzulhijjah merupakan hari diselamatkannya Nabi Yunus as oleh ikan Nun setelah beberapa hari bearada di dalam perut ikan sembari terus bertasbih dan beribadah kepada Allah Swt.

Pada hari ketiga, merupakan hari dikabulkannya doa Nabi Zakariya as yang man dikaruniai anak yang bernama Yahya. Hari keempat merupakan hari lahirnya Nabi Isa as. Hari kelima Dzulhijjah ialah hari kelahiran Nabi Musa as. Hari keenam Dzulhijjah merupakan hari-hari kemenangan para Nabi dalam berjuang, menegakkan ajaran tauhid. Sedangkan hari ketujuh yaitu hari ditutupnya pintu neraka Jahannam.

Niat Puasa Dzulhijjah tanggal 1-7

Niat puasa menjelang Idul Adha merupakan syarat sah yang utama. Jangan sampai, ketika kita melakukan puasa sunnah tanggal satu sampai tujuh namun tidak niat terlebih dahulu. Adapun niatnya sebagai berikut;

نويت صوم شهر ذى الحجة سنة لله تعالى

Nawaitu shauma syahri dzil hijjati sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

Puasa Tarwiyah sebelum Idul Adha

Puasa tarwiyah merupakan puasa yang disunnahkan sebelum Idul Adha, tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijjah. Kesunnahah puasa ini, teragkum dalam hadis yang mengatakan bahwa sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Ibnu Abbas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Artinya : “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya ; Ya Rasulullah! Walaupun jihad di jalan Allah ? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid).” (HR. Bukhari).

Berdasarkan anjuran tersebut, di bulan yang sangat mulia ini, sudah selayaknya kita turut mengamalkan puasa ini. Adapun niatnya sebagai berikut,

نويت صوم التروية سنة لله تعالى

Nawaitu shauma al tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah tarwiyah karena Allah ta’ala.”

Dalam hadis lain, disebutkan keutamaan puasa tarwiyah bahwa mampu menghapuskan dosa satu tahun. . Namun, ternyata dikatakan bahwa hadis tersebut merupakan hadis dlaoif (kurang kuat riwayatnya). Para ulama menyikapi ini bahwa tetap boleh mengamalkan puasa tarwiyah dengan hadis yang lain tadi. Sedangkan menyikapi hadis dlaif, selama tidak berkaitan dengan aqidah dan hukum maka boleh melakukan sebagai fadhail amal.

Puasa Idul Adha

Puasa Arafah sebelum Idul Adha

Puasa arafah merupakan puasa sunnah yang dilakukan pada hari arafah, tepatnya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa yang paling dianjurkan di bulan Dzulhijjah adalah puasa arafah. Apalagi bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji.

Dalam kitab Sahih Muslim keutamaan puasa arafah diriwayatkan oleh Abu Qatadah dari Rasulullah SAW.

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Artinya: “Puasa di hari arafah dapat menghapusakan dosa dua tahun yang telah lewat dan akan datang, dan puasa asyura (10 Muharram) mampu menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Hari arafah dikatakan sebagai hari yang paling utama (afdhal al ayyam),  sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Artinya; ‘Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan dari api neraka  dibanding  hari Arafah.

Namun, puasa sunnah Arafah hanya diperuntukkan untuk muslim selain jamaah haji, sedangkan bagi yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan, walaupun kuat melaksanakannya.  Hal ini disebabkan ittiba’ kepada sunnah Nabi.  Pendapat Imam an Nawawi dalam hal ini adalah makruh. Namun, berbeda kasusnya jika para jamaah haji sudah tiba di Arafah pada malam hari, maka tidak dimakruhkan.

Adapun niat puasa Arafah sebagaui berikut,

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: Saya niat puasa Arafah, karena Allah ta’ala.

Itulah tadi uraian mengenai puasa-puasa Idul Adha/ puasa sunnah yang mengiringi bulan mulia Dzulhijjah. dengan adanya momen seperti ini, sangat bagus jika digunakan pula untuk mengqadha puasa wajib/ bulan Ramadhan.

Baca Juga: Hukum dan Tata Cara Kurban Bagi Orang Haji

Semoga dengan adanya keutamaan seperti ini, kita bisa lebih semangat mendekatkan diri kepada Allah dengan puasa sebelum Idul Adha. Amiin. (Zainal Abidin).

Artikel ini diolah dari beberapa sumber seperti nu.or.id, tebuireng.online, dan bincangsyariah.

Zakat Sekarang
Bagikan :

Konsultasi ZISWAF

Foto Ustadz Rochim DD

Pertanyaan:  Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh Saya ingin bertanya tentang zakat harta warisan. Saya seorang ibu dari 3 anak (2 anak laki-laki dan 1…

Download PDF Panduan Zakat

Download Panduan Zakat

Informasi lengkap dan praktis untuk mempelajari zakat secara komprehensif.

Download Panduan Zakat di sini !
Kalkulator zakat

Kalkulator Zakat

Program yang akan membantu menentukan jumlah besaran Zakat yang akan Anda tunaikan.

Hitung Zakat Anda di sini !