Sejarah Perjuangan Puasa Asyura 10 Muharram, Niat, dan Keutamaan

636

Sejarah, Niat dan Keutamaan Puasa Asyura 10 Muharram

Muharram merupakan bulan mulia yang memiliki satu hari khusus, yaitu Hari Asyura. Untuk merayakan hari spesial tersebut, umat Islam disunnahkan untuk melakukan Puasa Asyura pada 10 Muharram. Asyura sendiri artinya sepuluh, maka dari itu puasa dilakukan pada hari ke sepuluh bulan Muharram.

Hari Asyura ada bukan tanpa alasan, karena terdapat latar belakang historis pada keutamaannya. Berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang Puasa Asyura:

1. Sejarah Hari Asyura 

Nabi Muhammad SAW sangat memuliakan Hari Asyura karena memiliki ibadah tersebut memiliki kedudukan yang mulia. Selain itu, orang Yahudi di Madinah juga memuliakan hari ke sepuluh di bulan Muharram tersebut.

Menurut orang Yahudi, Hari Asyura’ adalah hari kemenangan Nabi Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Ketika Nabi Musa menghentakkan tongkatnya, seketika laut merah membelah dan terjadi kejar-kejaran sengit antara Bani Israil dan pasukan Fir’aun. Allah selamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dengan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya.

baca juga: KISAH-KISAH TELADAN NABI ULUL AZMI

Sebagai ungkapan rasa syukur karena pindah ke tempat yang lebih damai, maka Nabi Musa berpuasa di hari itu, lalu diikuti oleh kaum Yahudi hingga masa Nabi Muhammad. Dalam kisah perjuangan Nabi Musa, kemenangan melawan pemerintahan Fir’aun yang keji merupakan momen titik balik yang patut direnungi oleh umatnya. Allah senantiasa membantu hambanya yang memperjuangkan kebenaran.

Selain itu, Nabi Nuh juga melakukan puasa Asyura sebagai ungkapan rasa syukur saat Allah menyelamatkan ia dan pengikutnya dari banjir bandang besar. Setelah banjir surut, kapal Nabi Nuh menepi di Pegunungan Arafat tepat pada 10 Muharram.

2. Bacaan Niat Puasa Asyura, Latin, dan Artinya

Bacaan Niat Puasa Asyura dan Artinya

Sama seperti puasa lainnya yang dilakukan umat Islam, Puasa Asyura pada 10 Muharram diawali dengan niat. Inilah niat, latin, beserta artinya yang mudah diucapkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Artinya:

“Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Umat Islam menahan lapar dan haus dari selepas sahur hingga matahari terbenam saat adzan maghrib. Bukan hanya itu, Sahabat juga menjaga perilaku dari hal-hal yang membatalkan puasa. Agar lebih baik, isi kegiatan dengan zikir dan doa yang berisi harapan di awal tahun hijriyah.

3. Dua Keutamaan Puasa Asyura di 10 Muharram 

Puasa Asyura Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Rasulullah sangat menekankan Puasa Asyura di bulan Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.”

Ternyata, puasa ‘Asyura’ adalah puasa yang telah dikenal oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga berpuasa pada hari tersebut. Hal itu berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata,

“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.”

Bak membuka lembaran baru, Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu. Jadi, Sahabat seperti rebranding diri di awal tahun untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat.

Hari yang Diagungkan Rasulullah SAW

Hadits tentang Hari Asyura diceritakan oleh perawi Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’.

Beliau bertanya,

“Hari apa ini?”

Mereka menjawab,

“Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa, pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah.”

Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa.

(HR. Al Bukhari)

Melansir dari Majelis Ulama Indonesia, maksud dari hadits tersebut ialah selain Yahudi, umat Nabi Muhammad juga lebih berhak mengingat perjuangan Nabi Musa untuk bebas dari penguasa yang bengis. Agar berbeda, maka Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk menambah puasa satu hari sebelum atau sesudah 10 Muharram.

Keinginan Rasulullah SAW untuk Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkeinginan, jika seandainya tahun depan beliau hidup, maka akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tetapi, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada tahun tersebut.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia berkata,

“ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).’ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”

Banyak ulama mengatakan bahwa disunnahkan juga berpuasa sesudahnya yaitu tanggal 11 Muharram. Di antara mereka ada yang berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbas berikut:

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari.”

Akan tetapi, hadits ini lemah dari segi sanadnya (jalur periwayatan haditsnya). Meskipun demikian, bukan berarti jika seseorang ingin berpuasa tanggal 11 Muharram adalah kegiatan terlarang. Tentu tidak, karena puasa tanggal 11 Muharram termasuk puasa di bulan Muharram dan hal tersebut disunnahkan.

Sebagian ulama juga memberikan alasan, jika berpuasa pada tanggal 11 Muharram dan 9 Muharram, maka hal tersebut dapat menghilangkan keraguan tentang bertepatan atau tidakkah hari ‘Asyura (10 Muharram), karena bisa saja penentuan masuk atau tidaknya bulan Muharram tidak tepat.

4. Tingkatan berpuasa ‘Asyura yang disebutkan oleh para ahli fiqh

Para ulama membuat beberapa tingkatan dalam berpuasa di hari ‘Asyura ini, sebagai berikut:

  • Pertama: Berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
  • Kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
  • Ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.
  • Keempat: Berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram.

Sebagian ulama mengatakan makruhnya berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena hal tersebut mendekati penyerupaan dengan orang-orang Yahudi. Ulama yang berpendapat demikian di antaranya adalah: Ibnu ‘Abbas, Imam Ahmad dan sebagian madzhab Abi Hanifah.

Pendapat yang kuat yaitu tidak apa-apa berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram, karena seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah selama beliau hidup. Jadi, jangan lupa Puasa Asyura, ya! Kalau ingin berpuasa pada 9 Muharram disebut Puasa Tasu’a dan hukumnya juga sunnah.

Yuk, ramaikan Muharram dengan ibadah sebagai bentuk refleksi diri di awal tahun hijriyah. Selain puasa, sedekah juga awal yang baik untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Sedekah di Dompet Dhuafa, mudah, amanah, dan transparan. Klik sedekah di sini sekarang juga!

 

Zakat Sekarang